Jakarta - Presiden Prabowo Subianto sempat mengatakan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) tidak akan berpengaruh kepada desa karena masyarakatnya tidak menggunakan dolar.Menurut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dengan penguatan dolar AS terhadap rupiah ini telah menguntungkan pertanian, khususnya petani.Amran menjelaskan, keuntungan itu didapat dari komoditas pangan yang sudah banyak diekspor, mulai dari bawang merah, daging ayam dan telur ayam.

Dalam data yang dipaparkan, ekspor pertanian pada 2025 telah meningkat sebesar 28,26%. Jadi, menurutnya, penguatan dolar AS juga telah memberikan keuntungan bagi pertanian dalam negeri, khususnya petani."Kan kemarin (dolar AS mulai menguat) Rp 16.700. Tahun lalu kan? Mau lihat dampaknya pertanian? Nih, ekspor kita. Jadi kita pakai data. Karena petani sederhana, karena ini menguntungkan situasi, tanamanya dipupuk dengan baik, dipelihara dengan baik, hamanya dijaga dengan baik, airnya dijaga dengan baik. Nah hasilnya ini. Ini kesimpulan aja ini, naik Rp 166 triliun. Ini ekspor pertanian dan ini data BPS," kata dia dalam konferensi pers di kediamannya, Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026).Dengan peningkatan ekspor ini, Amran meyakini maksud dari pernyataan Presiden Prabowo tetap akan berdampak positif pada desa di tengah penguatannya dolar AS terhadap rupiah."Inilah yang dimaksud Bapak Presiden bahwa ada dampaknya iya, tetapi dampak positifnya, di desa khususnya, di desa kan petani kan? Dampak positifnya jauh lebih tinggi. Nah kita pakai data. Anda boleh cross check ini data nanti," jelasnya.Meski begitu, pelemahan rupiah ini memang akan berpengaruh terhadap sejumlah komoditas pangan yang sebagian masih impor, seperti bawang putih, kedelai, dan daging sapi. Untuk diketahui, kedelai dan bawang putih merupakan komoditas pangan yang 90% masih diimpor."Yang dimaksud bahwa Pak Presiden tentu itu ada pengaruhnya. Katakanlah bawang putih ada pengaruhnya ya," pungkas Amran.