BEBERAPA hari lalu, di Nganjuk, Presiden Prabowo Subianto melontarkan sebuah kalimat sederhana, nyaris seperti seloroh, tetapi sesungguhnya sarat pesan politik dan ekonomi.

Menanggapi kegelisahan sebagian kalangan terhadap nilai tukar rupiah, ia berkata, “Jadi saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar bilang Indonesia akan collapse, akan chaos, akan apa, rupiah begini, rupiah begini. Orang di desa nggak pakai dolar, kok.”Kalimat itu terdengar ringan. Namun, dari mulut seorang kepala negara, ia segera berubah menjadi lebih dari sekadar retorika.

Ia adalah penegasan arah pandang. Bahwa kekuatan ekonomi Indonesia, setidaknya dalam imajinasi politik yang ingin dibangun, tidak bertumpu pada layar-layar bursa keuangan global, melainkan pada denyut kehidupan rakyat di desa-desa.

Pernyataan itu memantik pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar perdebatan tentang kurs rupiah.

“Benarkah fondasi ekonomi Indonesia sesungguhnya berada di sawah, di ladang, di pasar tradisional, di dapur-dapur rakyat, dan bukan di Wall Street, bukan pula di ruang-ruang spekulasi finansial?”