DI TENGAH kecemasan pasar terhadap pelemahan rupiah, Presiden Prabowo Subianto justru memilih jalan retorika yang tidak lazim.
Ia tidak bicara dengan bahasa teknokrat Bank Sentral. Tidak ada istilah capital outflow, tekanan eksternal, atau volatilitas global.Yang keluar dari mulutnya justru kalimat sederhana: “Orang desa tidak pakai dolar.”
Kalimat itu segera mengundang reaksi. Sebagian menganggapnya menenangkan. Sebagian lain menyebutnya terlalu menyederhanakan persoalan ekonomi.
Namun jika dicermati lebih dalam, ucapan itu sebenarnya bukan sekadar komentar spontan mengenai nilai tukar.
Di baliknya, tersimpan cara pandang politik yang jauh lebih besar: tentang bagaimana sebuah negara seharusnya memahami kekuatan dirinya sendiri.






