Jakarta -

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negara-negara emerging market melambat menjadi 3,9%. Perlambatan ini dipengaruhi meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berdampak pada inflasi global serta penguatan dolar AS.Pejabat Gubernur Sementara (Pgs) BI, Desrty Damayanti, mengatakan ketegangan AS dan Iran pada awal Juli bulan lalu mengancam kesepakatan perdamaian yang telah dicapai pada pertengahan Juni. Prospek pertumbuhan ekonomi global juga disebut hanya sebesar 3%, kemudian negara emerging market 3,9%, dan negara maju hanya 1,7%."Ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas pada awal Juli dan mengancam intern deal yang dilakukan pada pertengahan Juni 2026. Akibatnya prospek pertumbuhan ekonomi dunia 2026 akan tetap lemah sebesar 3%, penurunan terjadi baik di negara emerging market yang melambat menjadi sebesar 3,9%, maupun negara maju yang hanya tumbuh diperkirakan sebesar 1,7%," ungkap Destry dalam Raker bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Ketegangan dua negara tersebut juga diperkirakan akan menekan inflasi global pada level yang tinggi di kisaran 4,5%. Kemudian mata uang AS diperkirakan tetap kuat pada sejumlah negara emerging market."Hal ini sejalan dengan tingginya suku bunga di AS, pelarian modal di emerging market ke Amerika Serikat, dan tingginya risiko global tersebut. Seluruh kondisi ini memberikan tekanan pelemahan nilai tukar, hampir seluruh mata uang dunia dengan tekanan yang lebih besar pada mata uang negara emerging market, termasuk Indonesia," terangnya.Lantas bagaimana prospek pertumbuhan ekonomi RI?Destry mengatakan, perekonomian RI diproyeksikan masih tetap baik. Untuk tahun 2026, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kisaran 4,9% hingga 5,7%. Kemudian untuk tahun 2027, pertumbuhan ekonomi RI diperkirakan pada kisaran 5,2% hingga 6%.Destry menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan akan ditopang oleh keyakinan pelaku ekonomi dan pertumbuhan investasi yang juga didukung peran Badan Pengelola Investasi Indonesia (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara)."Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 dan 2027 diperkirakan tetap baik. Pada tahun 2026, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 4,9% hingga 5,7%. Sementara di 2027, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan meningkat dalam kisaran 5,2% hingga 6% didukung keyakinan pelaku ekonomi yang meningkat serta kenaikan investasi khusus yang berasal dari Danantara," jelasnya.Destri menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga kuartal II-2026 masih menunjukan prospek baik, yakni sebesar 5,29%. Sementara pada kuartal I-2026, pertumbuhan ekonomi RI diketahui sebesar 5,6%.Pertumbuhan ekonomi ini ditopang oleh stimulus fiskal yang berdampak pada peningkatan konsumsi pemerintah dan investasi. Selain itu, konsumsi pemerintah tetap tumbuh tinggi yang ditopang oleh peningkatan belanja pegawai, termasuk pembayaran gaji ke-13 dan belanja barang dan jasa terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).Kemudian untuk kuartal III-2026, Destry mengatakan ekonomi RI masih akan tumbuh baik. Sinyal pertumbuhan tersebut tercermin dari indeks ekspektasi penghasilan (IEP) hingga Purchasing Manufacturing Index (PMI) Indonesia yang kembali naik pada bulan Juli 2026."Perkembangan terkini pada triwulan III-2026 menunjukkan kegiatan ekonomi di dalam negeri tetap baik. Indeks ekspektasi penghasilan pada Juli 2026 tetap terjaga pada semua kelompok penghasilan didorong dampak percepatan konsumsi pemerintah, meskipun perlu terus ditingkatkan untuk memanfaatkan momentum kuatnya stimulus fiskal," pungkasnya.Tonton juga video "Tok! DPR Tetapkan Destry Damayanti Jadi Gubernur BI 2026-2031"