Jakarta -
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Kamis (20/8) mengatakan bahwa Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan sedang "menyeret Turki untuk ikut campur dalam petualangan berbahaya di Suriah."Pernyataan tersebut disampaikan setelah Israel melancarkan serangan udara ke pangkalan udara Abu al-Duhar di Suriah awal pekan ini. Israel mengklaim bahwa pasukan Turki akan segera dikerahkan di lokasi tersebut."Israel tidak akan mengizinkan pihak mana pun yang mengancam keamanan kami," tulis Katz di platform X.
Menanggapi pernyataan tersebut di hari yang sama, Kementerian Pertahanan Turki membantah bahwa pihaknya telah mengerahkan pasukan militer ke pangkalan udara Suriah. Namun begitu, Turki menegaskan akan terus mendukung upaya Suriah dalam pembangunan infrastruktur dan kemampuan militernya.Kementerian Pertahanan Turki juga mengkritik tindakan Israel dengan menyebut serangan tersebut sebagai tindakan yang "tidak bisa diterima", "ceroboh" dan berpotensi mengancam perdamaian serta stabilitas kawasan. Juru bicara kementerian tersebut juga menambahkan, "dalam hal ini, upaya dan kontribusi kami untuk melindungi kedaulatan dan keutuhan wilayah Suriah akan terus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dengan tujuan membantu menciptakan kondisi yang aman dan stabil."Kekhawatiran Israel terhadap andil TurkiPerdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Israel telah memperingatkan Suriah untuk tidak mengizinkan keberadaan Turki di pangkalan udara tersebut."Pesan kami sangat jelas, jangan lakukan itu. Saya rasa mereka tidak sepenuhnya memahami pesan tersebut," kata Netanyahu pada Rabu (19/8).Sementara itu, Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shaibani menyatakan bahwa Israel tidak memiliki alasan resmi terkait serangan bom yang terjadi. Ia menegaskan bahwa sebelum serangan terjadi tidak ada rencana penempatan pasukan Turki di lokasi tersebut."Tidak ada niat untuk mendirikan pangkalan militer Turki ataupun membangun markas militer Turki secara permanen bahkan sampai menempatkan pasukan Turki di lokasi tersebut," ujar Al-Shaibani dalam wawancara dengan media Amerika Serikat, Axios, pada Rabu (19/8).Ia menambahkan bahwa pangkalan udara yang sebagian besar kosong itu belum beroperasi. Bangunan tersebut sedang dalam proses pemulihan agar nantinya dapat digunakan oleh Angkatan Udara Suriah.Al-Shaibani mengakui bahwa beberapa perwira militer Turki sempat mengunjungi lokasi tersebut beberapa hari sebelum serangan Israel terjadi. Namun, ia menegaskan bahwa kunjungan itu merupakan bagian dari "kerja sama militer yang sedang berlangsung dalam bidang pelatihan dan pertukaran keahlian."Tensi yang meningkat antara Turki dan IsraelSerangan Israel di Suriah pekan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Turki dan Israel.Tahun lalu, kedua negara membangun jalur komunikasi untuk menghindari insiden yang tidak diinginkan di Suriah, Di mana militer dari kedua negara tersebut sama-sama beroperasi.Israel telah berulang kali melancarkan serangan udara di wilayah barat daya Suriah sejak mantan pemimpin Suriah, Bashar Assad, digulingkan pada tahun 2024. Serangan yang dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap kelompok bersenjata yang memiliki keterkaitan dengan para penguasa baru Suriah.Di sisi lain, Turki telah mengerahkan pasukan militernya di wilayah utara dan timur Suriah selama bertahun-tahun. Pasukan Turki juga menjadi salah satu sekutu utama Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa. Pemerintahan Turki menuding bahwa Israel berupaya mengacaukan stabilitas negara tersebut untuk melemahkan pemerintahan barunya.Turki dan Israel juga memiliki perbedaan pandangan terkait perang di Gaza.Menteri Luar Negeri Suriah, Al-Shaibani, mengatakan bahwa Suriah tetap terbuka untuk melakukan perundingan dengan Israel guna meredakan ketegangan. Namun, ia menegaskan bahwa setiap kesepakatan di masa depan harus mempertimbangkan kepentingan keamanan kedua belah pihak serta menghormati kedaulatan Suriah.Artikel ini terbit pertama kali dalan bahasa InggrisDiadaptasi oleh Athif AimanEditor: Rizki Nugraha












