Jakarta -
Apa yang berubah?Dalam upaya mengurangi limbah dan meningkatkan kesehatan masyarakat, aturan baru Uni Eropa (UE) mulai berlaku pada Rabu (12/08), melarang kandungan tinggi bahan kimia PFAS dalam kemasan makanan. PFAS adalah kelompok bahan kimia buatan manusia yang sangat stabil dan tidak mudah terurai di alam yang dijuluki sebagai "bahan kimia abadi"Berdasarkan Packaging and Packaging Waste Regulation (PPWR) atau Regulasi Kemasan dan Limbah Kemasan UE , semua produk kemasan baru yang masuk ke pasar kini harus memenuhi standar yang lebih ketat jika dirancang untuk bersentuhan dengan makanan.PFAS telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker tertentu dan berbagai kondisi kesehatan lainnya. Meski jumlah paparan dari kemasan makanan biasanya rendah, para ilmuwan khawatir dengan dampak jangka panjangnya.
PFAS adalah bahan kimia yang sangat persisten dan menumpuk di dalam tubuh serta lingkungan.PFAS digunakan untuk membuat kemasan kertas dan karton tahan minyak dan air, dan bisa ditemukan di mana saja, mulai dari kotak pizza hingga makanan beku siap saji. Kemasan dengan kandungan PFAS yang lebih rendah mengurangi risiko bahan kimia ini berpindah ke makanan atau lingkungan saat dibuang.Aturan baru ini melengkapi pembatasan Bisphenol A (BPA) dalam bahan yang bersentuhan dengan makanan, yang mulai berlaku di seluruh UE bulan lalu.Berdasarkan PPWR, pelaku usaha tidak diwajibkan menarik atau memusnahkan kemasan atau barang yang sudah beredar di pasar sebelum Rabu ini.Meski konsumen tidak akan merasakan perbedaan apapun, para pelaku usaha mengkritik keras perubahan ini, yang juga mewajibkan kemasan memenuhi standar keberlanjutan baru.Apakah aturan kemasan baru ini terlalu rumit?Banyak usaha kecil dan pedagang daring menilai biaya tambahan dan birokrasi baru ini terlalu memberatkan.Mereka mengeluhkan kewajiban mendaftarkan kemasan di beberapa negara Uni Eropa, yang kerap disertai biaya."Alih-alih memudahkan perdagangan lintas batas, aturan baru ini justru mengancam untuk membuatnya jauh lebih sulit," kata Händlerbund, asosiasi pengecer daring Jerman.Händlerbund memperingatkan anggotanya: "Tidak ada batas minimum dan tidak ada pengecualian untuk usaha kecil."Anggota Parlemen Eropa Elisabeth Dieringer dari Partai Kebebasan Austria (FPÖ) yang berhaluan kanan jauh memperingatkan bahwa PPWR bisa berarti biaya lima digit bagi perusahaan menengah."Sementara perusahaan besar punya departemen tersendiri untuk mengurus ini, usaha menengah nyaris tidak punya pilihan selain 'makan atau mati,'" tulisnya di X.Sejumlah pelaku usaha, dari pedagang perorangan hingga perusahaan menengah, mengaku menghentikan pengiriman ke dan di dalam UE akibat aturan baru ini."Berdasarkan aturan ini, saya harus menunjuk perwakilan resmi di setiap negara UE yang saya kirimi," tulis pemilik toko daring kecil Monstaas Workshop di Instagram."Biayanya sekitar 300 euro (sekitar Rp4,9 juta) per negara per tahun... biaya ini sungguh tidak terjangkau."Produsen papan seluncur asal Swedia, iLabs Electronics, mengumumkan akan menghentikan pesanan dari negara-negara UE melalui toko daringnya."Biaya dan beban administrasi PPWR kini tidak sebanding dengan volume penjualan langsung kami," tulis iLabs di situsnya.Sebuah petisi di change.org telah ditandatangani hampir 45.000 orang hingga Rabu pagi, mendesak Brussel untuk "berhenti menghancurkan usaha mikro UE."Seberapa parah masalah limbah kemasan UE?Menurut Komisi Eropa, negara-negara UE mencatat kenaikan limbah kemasan sebesar 20% dalam satu dekade terakhir.Tanpa PPWR, Brussel memperkirakan limbah kemasan akan naik lagi 19% pada 2030, didorong oleh booming belanja daring dan makanan siap saji.Data UE menunjukkan bahwa 178 kilogram limbah kemasan dihasilkan per orang di seluruh blok tersebut pada 2023. Dari jumlah itu, 35,3 kilogram adalah kemasan plastik, dan hanya 42% yang didaur ulang.Dengan 215 kilogram per kapita pada 2023, limbah kemasan Jerman jauh di atas rata-rata UE.Setiap warga UE menghasilkan setara sekitar setengah kilogram limbah kemasan setiap hari, menurut data Eurostat, badan statistik UE.Menurut Brussel, volume limbah tumbuh lebih cepat dari tingkat daur ulang dalam satu dekade terakhir.Kemasan juga menyumbang sekitar 40% konsumsi plastik di Eropa, kata seorang pejabat UE kepada wartawan dalam sesi pengarahan Selasa (11/08).Apa target jangka panjang UE soal limbah?Meski PFAS menjadi fokus utama fase awal PPWR ini, UE telah menetapkan target mengikat untuk mengurangi limbah kemasan sebesar 5% pada 2030 dan 15% pada 2040.Mulai 2028, produsen kemasan wajib mencantumkan label standar yang menunjukkan dengan jelas bahan yang digunakan dan cara daur ulang atau pembuangannya.Beberapa jenis usaha, terutama restoran dan kafe, akan diwajibkan menawarkan kemasan yang bisa digunakan kembali kepada pelanggan, seringkali tanpa biaya tambahan.Skema deposit untuk botol plastik dan kaleng minuman, seperti yang sudah berjalan di Jerman dan Belanda, akan diterapkan di seluruh UE pada 2029.Mulai 2030, semua kemasan yang masuk ke pasar UE, termasuk botol plastik sekali pakai, harus dirancang agar bisa didaur ulang.Kemasan juga harus diminimalkan sesuai kebutuhan perlindungan produk dan fungsinya, untuk mengurangi penggunaan kemasan berlebihan demi tujuan pemasaran.Sementara itu, kemasan plastik sekali pakai untuk produk segar akan dilarang mulai 2030.Negara-negara UE dapat menetapkan sanksi sendiri atas pelanggaran, dengan otoritas Jerman diizinkan menjatuhkan denda hingga 200.000 euro untuk pelanggaran yang lebih serius.Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa InggrisDiadaptasi oleh Fika RamadhaniEditor: Yuniman Farid










