Washington DC -
Penerbangan rahasia Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat meninggalkan Turki usai menghadiri KTT NATO pada Juli lalu menjadi sorotan. Pada momen itu, Trump dipindahkan secara diam-diam dari Air Force One ke pesawat militer AS yang lebih kecil dengan menggunakan sebuah truk katering bandara.Ancaman pembunuhan oleh Iran terhadap Trump disebut yang memicu operasi ini, yang diwarnai dengan langkah pengelabuan luar biasa untuk menyembunyikan keberadaan Presiden AS tersebut.Laporan soal penerbangan rahasia Trump ini, seperti dilansir Reuters, Rabu (12/8/2026), pertama kali diungkap oleh media terkemuka The Washington Post, yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui operasi tersebut. Media terkemuka AS lainnya, The New York Times, juga melaporkan hal serupa dengan mengutip para pejabat AS yang enggan disebut namanya.
Operasi penerbangan rahasia ini dilakukan sehari setelah AS kembali melancarkan serangan udara terhadap Iran menyusul kegagalan negosiasi antara kedua negara. Trump mengunjungi Ankara untuk menghadiri KTT NATO pada 7-8 Juli bersama para pemimpin dunia lainnya ketika dugaan ancaman Teheran muncul. Gedung Putih pada saat itu secara terbuka mengatakan bahwa Trump terbang dengan pesawat kepresidenan AS, Air Force One, dari Turki menuju ke Inggris untuk mengunjungi pangkalan militer setempat.Namun, sesaat setelah dia tampak menaiki Air Force One di hadapan kamera televisi di Ankara, ibu kota Turki, Trump secara diam-diam berpindah pesawat dengan menggunakan truk katering bandara.Trump kemudian terbang ke Inggris dengan pesawat militer jenis C-32A milik Angkatan Udara AS, yang berukuran lebih kecil,Manuver tersebut sengaja dirancang untuk menyembunyikan keberadaan Presiden AS tersebut dari publik, wartawan, dan bahkan sejumlah staf Gedung Putih. Menurut The Washington Post, operasi pengelabuan semacam ini dipicu oleh adanya ancaman kredibel terhadap keselamatan Trump.













