PENANDATANGANAN Makkah Joint Defence Agreement oleh Arab Saudi, Turkiye, dan Pakistan di Makkah pada 7 Agustus 2026 segera dibaca sebagai perkembangan besar dalam konfigurasi keamanan Timur Tengah yang sedang mengalami perubahan.
Pakta tersebut menegaskan prinsip pencegahan kolektif terhadap agresi, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan mekanisme komando, pengerahan pasukan, dan bentuk kewajiban militer ketika salah satu negara menghadapi serangan.Dalam situasi seperti itu, respons Iran justru menarik perhatian karena Teheran tidak menunjukkan kepanikan ataupun menganggap pakta tersebut sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya.
Pada 10 Agustus 2026, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan Iran tidak mempunyai alasan mengkhawatirkan kesepakatan tersebut dan menilai kerja sama keamanan regional dapat menjadi positif apabila bersifat inklusif.
Respons tersebut penting karena bertentangan dengan asumsi sederhana, setiap pembentukan pakta pertahanan baru di sekitar Iran otomatis akan menghasilkan reaksi keras dari Teheran.
Baca juga: Menteri Agama dan Anomali Survei Kabinet













