Jakarta -

Turki, Pakistan, dan Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan bersejarah pada hari Jumat (7/8) yang "bertujuan memperkuat pencegahan kolektif terhadap segala bentuk agresi." Perjanjian Pertahanan Makkah itu diteken oleh Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Ketiga negara memiliki mayoritas penduduk beragama Islam Sunni. Perjanjian yang ditandatangani di Makkah itu dimaksudkan untuk meningkatkan kerja sama di tengah ketidakpastian regional dan ancaman perang Iran.Meski kerap dibandingkan dengan NATO, terlebih setelah Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan: serangan terhadap salah satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota, para ahli dan analis mengatakan bahwa kemungkinan besar perjanjian tidak terlaksana seperti itu.Contohnya pada akhir pekan lalu, kelompok pemberontak Houthi di Yaman kembali melancarkan serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menganggap Arab Saudi sebagai musuh mereka. Pecahnya perang AS-Israel melawan Iran di akhir Februari, membuat Iran memandang Arab Saudi sebagai sekutu AS dan turut menyasarnya.