KAWASAN Teluk semakin dibayangi eskalasi konflik. Amerika Serikat masih mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Teheran merespons dengan ancaman pembalasan apabila tekanan tersebut berlanjut.
Perdamaian yang tak kunjung terwujud antara Amerika Serikat dan Iran sesungguhnya bukan sekadar persoalan perbedaan kepentingan politik, melainkan benturan dua cara pandang mengenai kedaulatan, keamanan, dan tatanan dunia.
Sejak Revolusi Islam 1979, hubungan kedua negara dibentuk oleh akumulasi kecurigaan yang diwariskan lintas generasi.Program nuklir Iran dipandang Washington sebagai ancaman terhadap stabilitas kawasan, sedangkan bagi Teheran, tekanan ekonomi, sanksi, dan blokade merupakan bentuk penyangkalan atas hak negara untuk menentukan masa depannya sendiri.
Dalam kondisi seperti itu, diplomasi kehilangan daya transformasinya karena setiap meja perundingan selalu dibayangi logika superioritas dan inferioritas. Maka konflik tersebut tidak berhenti pada batas-batas geografis Timur Tengah.
Selat Hormuz merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi dunia yang menentukan stabilitas ekonomi global.






