BEBERAPA hari terakhir, masyarakat internasional mengikuti dinamika perang Amerika Serikat-Iran dengan irama jantung tak menentu.
Pada satu waktu, media mewartakan adanya harapan untuk mencapai kesepakatan melalui diplomasi. Pada waktu lain, diberitakan juga saling-ancam dengan kekerasan oleh kedua belah pihak.
Pembicaraan back-channel yang dimediasi Pakistan, dengan dukungan Oman dan Qatar, kini memasuki fase substantif untuk mencari kemungkinan penghentian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz.Perang AS-Iran kini memperlihatkan paradoks klasik dalam politik internasional: perang dan diplomasi berjalan secara bersamaan.
Eskalasi militer dilakukan untuk memperkuat posisi tawar, sementara diplomasi dibuka untuk mencegah konflik meluas menjadi perang regional yang tidak terkendali.
Apapun dinamika yang terjadi, baik di dalam perang maupun di jalur diplomasi, konflik AS-Iran bukan lagi sekadar pertarungan militer, melainkan tentang siapa yang memiliki leverage (daya tawar) paling efektif.













