Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kesepakatan terkait Selat Hormuz dapat tercapai secepatnya pada Rabu atau Kamis (06/8) pekan ini. Sementara itu, Iran dan Oman dilaporkan semakin mendekati kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut, yang berpotensi membantu mengakhiri perang.Trump menyampaikan hal itu saat ditanya wartawan yang menemaninya dalam perjalanan di California mengenai laporan situs berita Axios yang menyebutkan pengumuman terkait Selat Hormuz bisa dilakukan pada hari Rabu (05/08)."Bisa saja terjadi. Besok atau lusa," kata Trump pada Selasa (04/08) malam waktu California, yang saat itu sudah memasuki Rabu pagi di Timur Tengah. "Banyak kemajuan telah dicapai."

Harga minyak turun karena muncul harapan akan tercapainya kesepakatan yang memungkinkan kapal tanker kembali keluar masuk Teluk Persia secara bebas untuk mengirimkan minyak mentah ke berbagai belahan dunia. Minyak mentah Brent, acuan internasional, turun 1,2% menjadi US$78,43 per barel pada perdagangan awal Rabu.Dua pejabat kawasan yang berbicara kepada Associated Press (AP) mengatakan, rancangan kesepakatan yang sedang dibahas antara Iran dan Oman mengatur agar kapal memasuki Teluk Persia melalui jalur yang berada di bawah kendali Iran dan keluar melalui jalur yang dikelola Oman. Menurut mereka, kapal akan dikenai biaya layanan untuk penyediaan keamanan dan pelestarian lingkungan maritim. Kedua pejabat tersebut berbicara dengan syarat identitas mereka dirahasiakan karena negosiasi masih berlangsung dan bersifat sensitif. Sebelumnya, pemerintahan Trump menolak segala bentuk kesepakatan yang memberikan Iran kendali atas Selat Hormuz, yang sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari merupakan jalur perairan internasional yang terbuka.Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia biasanya melewati selat tersebut. Namun sejak perang dimulai dan Iran melancarkan serangkaian serangan, aktivitas pelayaran di kawasan itu menyusut drastis.Dalam percakapannya dengan wartawan pada Senin (03/08), Trump kembali menegaskan penolakannya terhadap rencana penerapan tarif bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. "Saya tidak akan membiarkan mereka memungut biaya. Kalau ada yang akan memungut biaya, kami yang akan melakukannya," ujar Trump.Para pejabat kawasan mengatakan pembahasan masih terus berlangsung dan bentuk akhir kesepakatan masih dapat berubah. Mereka juga menyebutkan bahwa setiap kesepakatan kemungkinan akan dikaitkan dengan pencabutan blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.Pejabat AS dan Iran menyebut negosiasi mengalami kemajuanJuru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan pada Selasa (04/08) bahwa pembicaraan Teheran dengan Oman berfokus pada "pembentukan jalur pelayaran yang aman untuk kapal masuk dan keluar," yang tetap menghormati hak kedaulatan sekaligus mempertimbangkan kepentingan keamanan nasional Iran dan Oman. "Hasil akhir dari negosiasi ini akan diumumkan setelah pembicaraan selesai," katanya, sebagaimana dikutip kantor berita resmi Iran, IRNA.Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengakui bahwa pembicaraan tersebut menunjukkan kemajuan, "namun belum mencapai kesepakatan final." Rubio sebelumnya menolak kemungkinan kesepakatan yang memberikan Iran kendali atas Selat Hormuz. Bulan lalu ia mengatakan hal tersebut akan menjadi "preseden yang sangat berbahaya" bagi kawasan lain di dunia.Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC bahwa "ada kemungkinan kita mencapai kesepakatan hari ini atau besok untuk membuka kembali selat tersebut dan bergerak menuju situasi konflik yang lebih normal."Negara-negara Arab berupaya menjadi penengahEmir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, mengatakan dirinya juga berbicara melalui telepon dengan Trump pada Selasa ketika negaranya berupaya menjadi mediator untuk mengakhiri perang. Menurut kantor Emir Qatar, keduanya membahas berbagai cara menjembatani perbedaan agar peluang tercapainya penyelesaian diplomatik yang berkelanjutan semakin besar.Trump menghadapi tekanan yang terus meningkat untuk mengakhiri perang yang tidak populer tersebut. Konflik itu telah mendorong kenaikan harga bahan bakar menjelang pemilu sela di Amerika Serikat serta menguras persediaan sejumlah amunisi militer AS.Dalam beberapa hari terakhir, Trump bergantian melontarkan ancaman serangan besar dan menyatakan dukungan terhadap upaya diplomatik.Pada hari Senin (03/08), Trump mengatakan Amerika Serikat masih melakukan pembicaraan dengan Iran. Menurutnya, ini merupakan "kesempatan terakhir" bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan dan menghindari eskalasi militer lebih lanjut dari AS."Tahap pertama adalah pembukaan selat. Tahap kedua adalah denuklirisasi. Dan hal itu akan membutuhkan waktu," kata Trump.Iran membantah sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat dan menegaskan bahwa pembicaraan yang berlangsung hanya dilakukan dengan Oman.Serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan Laut MerahSebuah kapal dagang berbendera India tenggelam pada Selasa (04/08) di Laut Merah, lepas pantai Yaman, setelah dihantam kapal kecil bermuatan bahan peledak, demikian menurut otoritas Yaman dan India. Penjaga pantai Yaman berhasil menyelamatkan seluruh awak kapal yang terdiri dari 13 warga India dan seorang warga Yaman.Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab. Namun kelompok Houthi yang didukung Iran telah berulang kali menyerang kapal-kapal yang melintasi Laut Merah di dekat Yaman.Bulan lalu, Houthi mengumumkan penutupan Selat Bab el-Mandeb bagi kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi sebagai balasan atas blokade Riyadh terhadap Yaman dan serangan terhadap bandara internasional di Sanaa, ibu kota yang dikuasai kelompok pemberontak.Sebelumnya pada hari Selasa (04/08), sebuah kapal kargo juga melaporkan terkena "proyektil tak dikenal" saat melintasi Selat Hormuz, menurut United Kingdom Maritime Trade Operations Center.Pusat tersebut menyatakan serangan terjadi sekitar pukul 02.00 waktu setempat ketika kapal berada sekitar 37 kilometer di timur laut Al Khasab, kota pelabuhan di Oman. Perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey, menyatakan kapal tersebut mengalami kerusakan.Lalu lintas pelayaran di dua jalur maritim strategis Timur Tengah, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, pada Selasa (04/08) hampir tidak berubah dibandingkan sehari sebelumnya, menurut data pelacakan kapal.AS telah menggunakan 'hampir seluruh' rudal presisi jarak jauhnya selama perang dengan IranAngkatan Darat Amerika Serikat telah menghabiskan sebagian besar persediaan global rudal jarak jauh berpresisi tinggi selama lima bulan perang melawan Iran. Demikian dikutip dari laporan eksklusif Reuters.Informasi ini diungkapkan oleh tiga sumber yang mengetahui data tersebut dan memunculkan kekhawatiran mengenai kesiapan militer AS menghadapi konflik lain di masa depan. Rudal yang dimaksud terutama adalah Army Tactical Missile System (ATACMS) dan Precision Strike Missile (PrSM), yakni rudal permukaan-ke-permukaan milik Angkatan Darat AS. Dua sumber mengatakan Amerika Serikat telah menggunakan "hampir seluruh" persediaan kedua jenis rudal tersebut.Sejauh mana stok ATACMS dan PrSM menyusut belum pernah dilaporkan sebelumnya. Rudal-rudal jarak jauh yang masing-masing bernilai lebih dari US$1 juta itu merupakan bagian penting dari persenjataan Amerika karena memungkinkan serangan yang sangat akurat dari jarak aman.ATACMS yang dipasok Amerika juga memainkan peran penting dalam perang di Ukraina dengan memungkinkan pasukan Ukraina menyerang sasaran di wilayah Rusia. Sementara itu, PrSM merupakan generasi baru yang lebih canggih dan secara bertahap akan menggantikan ATACMS yang memiliki jangkauan lebih pendek.Trump mungkin harus mengandalkan serangan pesawat berawakBerkurangnya stok rudal presisi jarak jauh secara drastis berarti Presiden AS Donald Trump kemungkinan harus lebih mengandalkan misi pengeboman menggunakan pesawat berawak yang berisiko lebih tinggi apabila memutuskan kembali melancarkan serangan besar terhadap Iran. Ketiga sumber menolak mengungkapkan berapa jumlah pasti rudal yang masih dimiliki Amerika Serikat.Namun seiring perang berlarut-larut, ketiga sumber tersebut mengaku khawatir berkurangnya stok rudal dapat mengurangi kemampuan Amerika Serikat untuk menangkal ancaman dari negara-negara seperti Rusia dan Cina.Seorang sumber lain mengatakan, meski penggunaan senjata presisi sangat tinggi, Amerika Serikat masih mampu mengisi kembali persediaannya. Menurutnya, Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer di Timur Tengah, masih dapat mengambil stok dari gudang militer AS di berbagai belahan dunia.Gedung Putih: Persediaan kami lebih banyak daripada negara mana punMenanggapi pertanyaan Reuters mengenai data persediaan rudal, Gedung Putih merilis pernyataan Trump. "Kami memiliki amunisi jauh lebih banyak dibandingkan negara mana pun di dunia, bahkan jauh lebih banyak dari yang kami perlukan," kata Trump.Ia juga mengatakan industri pertahanan Amerika saat ini memproduksi amunisi dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah, sekaligus memperluas kapasitas pabrik dan fasilitas produksinya pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.Para analis sepakat bahwa produksi sejumlah jenis amunisi, termasuk peluru artileri dan berbagai rudal, memang berada pada tingkat rekor. Namun mereka mengingatkan bahwa persediaan tetap bisa tidak mencukupi jika perang berlangsung dalam waktu lama.Lockheed Martin, produsen ATACMS, PrSM, dan sistem pertahanan rudal THAAD, belum memberikan tanggapan atas pertanyaan mengenai pernyataan Trump maupun kondisi persediaan rudal. Raytheon, pembuat rudal jelajah Tomahawk dan pencegat Patriot, juga belum memberikan komentar.Juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, mengatakan:"Militer Amerika adalah yang paling kuat di dunia dan memiliki semua yang dibutuhkan untuk melaksanakan operasi kapan pun dan di mana pun sesuai keputusan Presiden. Kami telah menjalankan berbagai operasi yang sukses di berbagai wilayah komando tempur sambil memastikan militer AS tetap memiliki persenjataan yang memadai untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami."Menurut Reuters, data mengenai menipisnya stok senjata telah beredar di lingkungan pemerintah federal selama sepekan terakhir. Informasi tersebut menjadi bahan pembahasan dalam diskusi internal pemerintahan Trump mengenai berapa lama Amerika Serikat masih mampu melanjutkan serangan terhadap Iran tanpa mengurangi persediaan hingga tingkat yang membahayakan kesiapan menghadapi krisis di kawasan lain.Kekhawatiran atas persediaan senjataSalah satu sumber mengatakan berkurangnya stok ATACMS dan PrSM merupakan konsekuensi dari keputusan pemerintahan Trump yang lebih memilih menggunakan rudal jarak jauh dibanding mengirim pesawat tempur berawak untuk membom sasaran di Iran.Karena mampu menyerang dari jarak aman, rudal-rudal tersebut dinilai sangat penting jika Amerika Serikat harus menghadapi negara dengan sistem pertahanan udara yang kuat seperti Cina.Menurut laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada Maret lalu, rudal PrSM telah digunakan dalam serangan terhadap sasaran di wilayah Iran. Laporan itu juga menyebutkan stok awal PrSM memang relatif sedikit karena merupakan sistem persenjataan baru. Namun militer AS telah memesan rudal tersebut dalam jumlah besar untuk pengiriman pada 2027.Angkatan Darat AS sendiri telah menyatakan bahwa ATACMS akan dihentikan secara bertahap dan produksinya dialihkan ke PrSM. Dua sumber mengatakan para pemimpin militer selama beberapa pekan terakhir telah memperingatkan Presiden Trump bahwa persediaan senjata pertahanan, termasuk rudal pencegat Patriot yang digunakan untuk menghadapi rudal balistik, juga terus menurun.Pekan lalu, sejumlah media melaporkan Trump memutuskan tidak melancarkan serangan besar berikutnya terhadap Iran, salah satunya karena penasihat militernya memperingatkan mengenai menipisnya stok senjata Amerika. Namun seorang pejabat AS membantah laporan tersebut. Ia mengatakan Trump membatalkan rencana serangan lanjutan karena adanya tekanan dari negara-negara Teluk.Konflik di Timur Tengah juga memicu perdebatan mengenai kewenangan Trump melanjutkan operasi militer terhadap Iran tanpa persetujuan Kongres. Hingga kini, pemerintah belum mengajukan deklarasi perang maupun permintaan otorisasi penggunaan kekuatan militer kepada Kongres AS.Stok senjata pertahanan juga menyusutPekan lalu, CSIS memperkirakan bahwa antara Februari hingga Juli sekitar 65% stok rudal pencegat Patriot telah digunakan. Lembaga itu juga memperkirakan jumlah rudal pencegat THAAD dalam persediaan Amerika Serikat telah berkurang sedikitnya 38% dibandingkan saat perang dimulai.Patriot dan THAAD merupakan sistem pertahanan udara yang berfungsi mendeteksi sekaligus menghancurkan rudal yang datang, dan termasuk di antara sistem pertahanan paling efektif yang dimiliki Amerika Serikat. Meski Reuters tidak dapat melihat langsung data persediaan tersebut, dua sumber menyatakan angka-angka dalam laporan CSIS sesuai dengan data internal pemerintah AS.Selain itu, Amerika Serikat juga telah menghabiskan hampir setengah dari stok global rudal jelajah Tomahawk sejak perang dimulai, menurut salah satu sumber. Reuters belum dapat memverifikasi angka tersebut secara independen.Tomahawk merupakan rudal milik Angkatan Laut AS yang diluncurkan dari kapal perusak, kapal penjelajah, maupun kapal selam. Selama bertahun-tahun rudal ini menjadi senjata utama Angkatan Laut untuk menyerang sasaran dengan pertahanan kuat tanpa mempertaruhkan keselamatan pilot.Raytheon, unit usaha RTX yang memproduksi Tomahawk, saat ini tengah menyusun kesepakatan kontrak jangka panjang dengan Pentagon untuk meningkatkan produksi rudal tersebut, bersamaan dengan peningkatan produksi berbagai jenis amunisi lainnya, seiring upaya Washington membangun kembali persediaan senjatanya.*Editor: Rizki NugrahaLihat juga Video: Trump Beri Peringatan Terakhir untuk Iran Sebelum 'Dipenggal'