Jakarta -

Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyerukan warga sipil di Timur Tengah untuk menjauh dari posisi pasukan Amerika Serikat."Kami memperingatkan masyarakat umum di negara-negara tempat tentara Amerika ditempatkan untuk segera menjauh dari radius 500 meter dari tempat-tempat persembunyian tentara Amerika, demi keselamatan," kata Garda Revolusi Iran dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, seperti dilansir Anadolu Agency, Jumat (24/7/2026).Dalam pernyataannya, IRGC menuduh bahwa para perwira dan personel militer AS "telah meninggalkan pangkalan mereka dan pindah ke bangunan-bangunan di daerah perkotaan untuk mengarahkan operasi militer."

IRGC mendesak warga sipil untuk "segera tetap berada setidaknya 500 meter" dari lokasi tersebut demi keselamatan mereka. IRGC juga menuduh Washington menargetkan infrastruktur sipil, termasuk jembatan, dermaga perikanan, kapal, kendaraan, dan jalur kereta api di Iran.Saling serang antara AS dan Iran saat ini terus berlangsung. Presiden AS Donald Trump bahkan dilaporkan sedang mengkaji untuk melancarkan serangan terbaru secara besar-besaran terhadap Iran. Skala operasi militer terbaru AS terhadap Iran ini disebut bisa melampaui serangan selama Operation Epic Fury yang dilancarkan awal tahun ini.Trump menyampaikan hal tersebut, seperti dilansir Middle East Monitor, Jumat (24/7/2026), dalam wawancara terbaru dengan media AS Axios pada Kamis (23/7).Dalam wawancara tersebut, Trump mengatakan dirinya hampir mengambil keputusan terkait kemungkinan serangan besar-besaran AS tersebut. Namun, dia menegaskan bahwa belum ada keputusan final yang dibuat.Dua pejabat AS, yang tidak disebut namanya, mengatakan secara terpisah kepada Axios, bahwa sejauh ini belum ada perintah militer baru yang diberikan."Saya sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran. Lebih besar dari sebelumnya. Saya hampir mengambil keputusan. Kami sudah siap sepenuhnya untuk itu," kata Trump dalam wawancara dengan Axios tersebut.