PADANG, KOMPAS.com – Kasus dugaan peledakan bom rakitan oleh seorang siswa di MAN 3 Kota Padang menjadi pengingat bahwa perundungan (bullying) tidak boleh dianggap sebagai kenakalan remaja atau sekadar candaan antarteman.
Psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Putra Indonesia (UPI) YPTK Padang, Neny Andriani, mengatakan bullying yang berlangsung terus-menerus dapat meninggalkan dampak psikologis jangka panjang apabila tidak ditangani dengan baik."Bullying tidak bisa diselesaikan hanya dengan menghukum pelaku. Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya empati di sekolah sehingga setiap anak mampu menghargai perbedaan, saling menghormati, dan memahami dampak dari perilaku yang menyakiti teman sebayanya," kata Neny, Selasa (14/7/2026).
Baca juga: Motif Siswa MAN 3 Padang Ledakkan Bom Rakitan: Akumulasi Perundungan dan Eksistensi Diri
Pernyataan itu disampaikan menyusul kasus di MAN 3 Kota Padang, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah. Seorang siswa berinisial R diduga membawa empat bom rakitan ke sekolah.
Satu bom sempat meledak di depan ruang kelas XII IPS 7 saat jam istirahat, sedangkan tiga bom lainnya berhasil diamankan Tim Gegana Polda Sumatera Barat. Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut.









