Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengaku terkejut ketika mengetahui jumlah badan usaha milik negara (BUMN) beserta anak usahanya yang mencapai lebih dari seribu perusahaan. Hal ini dia ketahui ketika pertama kali menjabat sebagai Presiden.Padahal, menurut perkiraannya, jumlah BUMN hanya berkisar 300 perusahaan dan maksimal berada di angka 400 perusahaan. Ternyata, struktur perusahaan BUMN berjenjang dari anak, cucu, bahkan cicit perusahaan. Menurutnya, praktik tersebut selama ini menjadi modus untuk menyembunyikan uang negara."Perkiraan saya dari dulu BUMN kita ya 300 maksimal 400. Begitu saya dilantik jadi presiden baru saya diberitahu BUMN kita 1.077. Itu pun jangan-jangan ada lagi anak perusahaan, ada lagi cucu perusahaan, ada lagi cicit perusahaan. Itu adalah cara mereka untuk sembunyi, sembunyiin uang negara, sembunyiin uang rakyat," ujar Prabowo dalam pidatonya yang dipantau secara daring melalui YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (10/6/2026).

Mengetahui hal tersebut, kemudian Prabowo meminta adanya pemangkasan jumlah BUMN. Hal ini dilakukan lantaran tak banyak BUMN yang untung dan agar struktur BUMN menjadi lebih efisien.Orang nomor satu di Indonesia itu menyebutkan hingga hari ini Danantara sudah menutup 240 BUMN dan nantinya pada akhir Juli ini BUMN yang ditutup mencapai 250 BUMN."Desember 31 2026, kita akan tutup jumlahnya 800 BUMN yang tidak efisien, yang tidak pernah untung, yang merugi terus kita tutup," kata Prabowo.Prabowo mengkalim dengan telah ditutupnya BUMN tersebut, negara telah menghemat hampir Rp 70 triliun. Sebab uang sebanyak itu seringkali cuma digunakan untuk menggaji direksi dan komisaris pada perusahaan yang merugi."Dari gaji direksi saja sampai sekarang, overhead dan gaji kita sudah bisa menghemat mendekati Rp 70 triliun. Rp 70 triliun. sudah kita hemat," pungkas Prabowo.