DALAM diplomasi internasional, kadang-kadang yang paling keras berbicara bukan pidato, melainkan ketidakhadiran.

Kursi kosong sering kali lebih politis dibanding pernyataan resmi kementerian.Karena itu, keputusan Indonesia yang hanya mengirim Duta Besar RI di Teheran dalam prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei memunculkan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar urusan protokol diplomatik.

Pertanyaan itu disampaikan secara terbuka oleh mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal.

Menurutnya, absennya delegasi resmi tingkat tinggi Indonesia dapat menimbulkan kesan, politik luar negeri bebas aktif mulai kehilangan keberanian dalam menghadapi isu-isu geopolitik sensitif.

Kritik tersebut mungkin terdengar keras, tetapi sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang cukup relevan mengenai arah diplomasi Indonesia hari ini.