Jakarta - Beberapa hari masa berkabung publik di Iran berubah menjadi sebuah pertunjukan politik yang ingin diperlihatkan para pemimpin Iran kepada dunia.Kerumunan orang berjumlah besar memadati jalan-jalan di kota suci Mashhad pada Kamis (09/07) untuk menghadiri pemakaman pemimpin tertinggi Iran yang telah wafat, Ayatollah Ali Khamenei.Khamenei dimakamkan di kompleks makam Imam Reza, situs Muslim Syiah paling suci di Iran.

Prosesi tersebut menandai berakhirnya enam hari masa berkabung publik yang digelar di lima kota di Iran serta di negara tetangga, Irak.Pemakaman itu, menurut laporan kantor berita pemerintah IRNA, berlangsung setelah terjadinya saling serang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang mengancam upaya awal untuk mencapai kesepakatan demi mengakhiri perang yang menewaskan Khamenei. Sebelumnya, Garda Revolusi Iran menuduh AS mengebom dua jembatan di jalur kereta api yang menghubungkan ibu kota Teheran dengan Mashhad pada malam hari.Menurut mereka, serangan itu dilakukan "untuk mengalihkan perhatian" dari prosesi pemakaman.Khamenei dan beberapa anggota keluarganya tewas dalam serangan Israel yang menghantam kediamannya di Teheran pada 28 Februari 2026, hari pertama perang Iran melawan AS dan Israel.Baca juga:Pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei, wafat dalam serangan AS dan IsraelTujuh hari dan jutaan pelayat Fakta-fakta terkait pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali KhameneiDia kemudian digantikan sebagai pemimpin tertinggi oleh putranya, Mojtaba Khamenei, yang tidak terlihat di hadapan publik sejak dilaporkan mengalami luka serius dalam serangan yang sama.Mojtaba, yang kini berusia 56 tahun, tidak menghadiri rangkaian upacara pemakaman di Teheran maupun Qom. Tidak ada indikasi bahwa dia turut hadir dalam prosesi pemakaman di Mashhad.Pada Kamis pagi, sebuah pesawat yang membawa peti jenazah Ali Khamenei, cucu perempuannya, menantunya, putrinya, serta istri Mojtaba, mendarat di Mashhad setelah terbang dari Irak.Sebelumnya, kerumunan orang berjumlah besar mengikuti arak-arakan jenazah menuju dua makam suci Syiah di kota Najaf dan Karbala.AFP via Getty ImagesPara pelayat menghadiri pemakaman Ali Khamenei, beserta sejumlah anggota keluarganya, sebelum dimakamkan di Kompleks Makam Imam Reza di Mashhad pada 9 Juli 2026.Pada sore hari, tayangan televisi Iran memperlihatkan ribuan pelayat berpakaian hitam berjalan di sepanjang salah satu boulevard utama di pusat Kota Mashhad.Banyak di antara mereka mengibarkan bendera Iran serta panji-panji merah yang melambangkan tuntutan balas dendam.Sejumlah pelayat juga membawa foto pemimpin tertinggi yang telah wafat itu, serta poster yang menyerukan kematian bagi Presiden AS Donald Trump.Bersama Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, Trump memerintahkan serangan gabungan terhadap Iran empat bulan lalu yang memicu pecahnya perang.Di atas boulevard tersebut tergantung spanduk-spanduk berisi slogan resmi, termasuk seruan "kita harus bangkit"."Kepergian pemimpin kami terasa lebih berat daripada kehilangan orang tua," kata Hoda, ibu rumah tangga berusia 35 tahun, kepada kantor berita AFP."Hanya kematian Trump dan Netanyahu yang dapat meredakan kesedihan kami."Belakangan, sebuah truk membawa peti jenazah Khamenei secara perlahan menembus lautan massa menuju kompleks makam Imam Reza. Iring-iringan itu akhirnya tiba di lokasi saat malam mulai turun.Imam Reza merupakan imam kedelapan dalam tradisi Syiah dan satu-satunya dari 12 imam yang diyakini dimakamkan di wilayah Iran.Mausoleumnya, yang berasal dari abad ke-9 dan memiliki kubah emas serta menara-menara yang menjulang tinggi, dikunjungi jutaan peziarah setiap tahun.Ali Khamenei lahir di Mashhad, kota terbesar kedua di Iran yang terletak di bagian timur laut negara itu.Dia menempuh pendidikan agama di sejumlah seminari di kota tersebut sebelum pindah ke Qom, pusat ulama Syiah Iran.Dia diangkat menjadi pemimpin tertinggi Iran pada 1989 setelah wafatnya pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.Selama 37 tahun berkuasa, Khamenei mempertahankan kendali kuat atas politik dan militer Iran.Dia menekan berbagai tantangan domestik, dalam beberapa kasus dengan tangan besi.Dalam urusan luar negeri, dia juga secara konsisten mengambil sikap keras, termasuk dalam konfrontasi Iran dengan AS dan Israel.Kepemimpinan Iran berharap rangkaian upacara pemakaman Khamenei yang digelar secara terorganisasi dapat memancarkan citra persatuan dan kekuatan setelah perang yang menewaskan ribuan orang, serta gelombang protes massal pada Januari lalu ketika tindakan keras aparat keamanan menyebabkan ribuan orang lainnya tewas.AFP via Getty ImagesPara pelayat menghadiri pemakaman Ali Khamenei, beserta sejumlah anggota keluarganya, sebelum dia dimakamkan di Kompleks Makam Imam Reza, Mashhad, pada 9 Juli 2026.Namun, masa berkabung nasional itu dibayangi oleh kembali memanasnya konflik dengan AS.Trump memperingatkan bahwa serangan AS bisa menjadi "jauh lebih buruk" setelah gelombang serangan selama malam kedua pada Kamis.Militer AS mengatakan operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran untuk mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz.Sementara itu, Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa pasukan Iran telah menyerang fasilitas dan infrastruktur militer AS di Kuwait, Bahrain, dan Qatar sebagai respons atas serangan tersebut.Tiga pekan lalu, Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) yang menyerukan penghentian permusuhan di semua front serta pembukaan kembali Selat Hormuz.AFP via Getty ImagesSeorang pria mendorong kereta bayi yang dipasang potret Ali Khamenei, saat warga berdatangan ke sebuah stasiun menjelang prosesi pemakaman Khamenei dan sejumlah anggota keluarganya.Kesepakatan itu juga memberi waktu dua bulan bagi kedua pihak untuk mencapai perjanjian final yang mencakup program nuklir Iran, pencabutan sanksi AS, serta gencatan senjata permanen.Pekan lalu, Qatar selaku mediator menyatakan bahwa para perunding Iran dan AS telah mencatat kemajuan dalam perundingan tidak langsung di Doha setelah kedua negara saling melancarkan serangan selama empat hari.Qatar juga mengatakan bahwa pertemuan berikutnya akan digelar setelah rangkaian upacara untuk Khamenei berakhir.'Air mata muncul dari rasa sakit dan duka yang bergolak'Dari rangkaian acara pemakaman selama sepekan, pawai pada Senin (06/07) menjadi momen paling penting dalam upacara yang disusun dengan sangat cermat, sarat dengan pesan politik tentang perlawanan dan balas dendam.Iring-iringan jenazah yang mengangkut peti mati Ayatollah Ali Khamenei dan empat anggota keluarganya bergerak perlahan menyusuri rute sepanjang 10 kilometer.Laju prosesi kerap melambat, bahkan beberapa kali terhenti, karena jutaan pelayat memadati jalan dalam salah satu kerumunan publik terbesar yang terlihat dalam beberapa tahun terakhir.Namun, tidak semua warga ikut serta. Banyak yang memilih menjauh, masih terluka oleh dua perang yang terjadi dalam kurun kurang dari setahun, inflasi yang melonjak hingga sekitar 80%, serta trauma akibat gelombang demonstrasi anti-pemerintah pada Januari lalu.Sebagian warga menyalahkan Khamenei, yang juga menjabat sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata, atas tindakan keras aparat keamanan yang menewaskan ribuan orang."Tentu saja saya tidak akan menghadiri pemakaman itu," kata seorang pria kepada kami di luar salah satu dari banyak mookeb, pos peristirahatan yang didirikan di berbagai titik di Teheran dan pinggiran kota untuk menyediakan makanan dan minuman gratis, yang sebagian besar berasal dari sumbangan masyarakat."Banyak orang tidak punya pekerjaan dan hidup dalam ketidakpuasan yang mendalam," ujarnya.Rekaman udara dari prosesi Senin menunjukkan salah satu ruas jalan utama Teheran dipenuhi lautan pendukung pemerintah yang larut dalam suasana duka.Mereka meneriakkan slogan-slogan khas Republik Islam Iran, seperti "Mati bagi Amerika" dan "Mati bagi Israel"."Air mata muncul dari rasa sakit dan duka yang bergolak dalam diri seseorang, dan dunia dapat melihat kenyataan itu," ujar Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menanggapi klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut tangisan para pelayat sebagai "air mata palsu".Rangkaian peringatan diadakan di sejumlah lokasi paling suci bagi umat Muslim Syiah, termasuk di kota Qom, sebelah selatan Teheran, pada Selasa (07/07).Setelah itu, prosesi berlanjut ke Najaf dan Karbala di negara tetangga, Irak.Pemakaman terakhir kemudian berlangsung pada Kamis (09/07) di Kompleks Makam Imam Reza di Mashhad, kota kelahiran sang ayatollah sekaligus kota paling suci di Iran."Prosesi pemakaman ini dirancang untuk menampilkan dirinya bukan sekadar sebagai pemimpin nasional, melainkan sebagai tokoh agama dan politik yang melampaui batas negara, dengan otoritas yang menjangkau dunia Muslim, khususnya komunitas Syiah," kata Mohammad Eslami, peneliti di Universitas Teheran.Namun, ada pula penilaian yang jauh lebih kritis terhadap warisannya."Revolusi yang dia pertahankan sesungguhnya ditujukan bagi sebuah dunia yang kini sudah tidak lagi ada," ujar Karim Sadjadpour, penulis Reading Khamenei: The World View of Iran's Most Powerful Leader.Di Teheran, sebuah truk datar yang dihiasi ornamen kisi-kisi rumit serta kaligrafi Arab bernuansa Islam mengangkut lima peti jenazah yang dibalut warna hijau, putih, dan merahwarna bendera Iran.Salah satu peti berukuran paling kecil merupakan milik Zara, cucu perempuan Khamenei yang baru berusia 14 bulan.Mereka semua tewas dalam serangan udara Israel dan AS pada 28 Februari 2026, beberapa jam pertama setelah perang pecah.Di tengah lautan pelayat yang mengenakan pakaian hitam, warna merah menjadi simbol yang paling menonjol.Bendera-bendera keagamaan yang melambangkan darah dan kemartiran memperkuat seruan untuk membalas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran tersebut.Poster-poster berbahasa Inggris yang menempatkan Presiden AS Donald Trump sebagai sasaran utama tampak diangkat tinggi-tinggi, terlihat jelas oleh ratusan jurnalis asing yang mendapat akses langka untuk meliput pemakaman ini.Sebuah aplikasi pesan asal Iran bahkan disebut mengimbau para pendukung pemerintah untuk meneriakkan slogan-slogan seperti, "Pembalasan kami tak terelakkan" dan "Mereka akan membayar mahal".BBCMojtaba ingin mengirim pesan kepada Presiden AS dan Dunia."Saya ingin menyampaikan satu kalimat kepada Presiden Trump dan kepada dunia," ujar seorang pria berambut abu-abu bernama Mojtaba, yang menghampiri jurnalis BBC dan mengatakan bahwa dia memiliki pesan untuk disampaikan."Segera, dalam waktu dekat, Anda akan melihat tanda-tanda pembalasan di puncak Gedung Putih. Dan tak lama lagi, warna Gedung Putih akan berubah menjadi warna bendera merah saya.""Sebagian seruan semacam itu bersifat simbolis dan ritualistik," kata seorang pejabat pemerintah."Namun kemarahan itu nyata, terutama di kalangan kelompok garis keras dalam sistem yang menentang kesepakatan baru dengan ASnegara yang telah membunuh pemimpin kami."Untuk mengatasi krisis ekonomi yang parah, para pemimpin baru Iran, setelah berhasil melewati berminggu-minggu peperangan, kini harus terus melanjutkan perundingan jika mereka ingin memperoleh keringanan yang sangat dibutuhkan melalui pelonggaran sanksi dan pencairan aset yang selama ini dibekukan.Di tengah kerumunan pendukung pemerintah yang menyambut hangat para tamu asing, banyak warga mendatangi orang-orang dari luar negeritermasuk sekitar 400 pemengaruh (influencer) media sosial yang, menurut pemerintah Iran, hadir dalam acara tersebutuntuk menanyakan, "Anda berasal dari mana?"Mereka juga kerap mendesak para jurnalis asing agar "menyampaikan kebenaran".Namun bahkan di tengah lautan massa itu, suara-suara lain tetap terdengar.Dua perempuan muda Iran, yang mengenakan jubah hitam seperti sebagian besar pelayat perempuan lainnya, menarik kami ke samping dan berbisik bahwa "suara sejati revolusi" justru telah terdengar dalam aksi-aksi protes yang berlangsung beberapa bulan lalu di jalan-jalan yang sama.Masa depan Iran masih diselimuti ketidakpastian saat negara itu menguburkan tokoh terakhir dari generasi pertama pendiri Revolusi Islam 1979.Hampir empat dekade lalu, saya berada di Iran ketika negara itu memakamkan pemimpin tertinggi pertamanya, Ayatollah Ruhollah Khomeini.Dalam kepanikan massa yang berdesakan, peti jenazah kayu yang rapuh itu pecah, dan jasadnya yang terbungkus kain kafan putih terjatuh ke tengah kerumunan.Kini Iran memasuki era baru di bawah Pemimpin Tertinggi ketiganya, Mojtaba Khamenei yang berusia 56 tahun.Hingga kini, dia belum terlihat di depan publik sejak serangan udara yang menewaskan ayahnya sekaligus menyebabkan dirinya mengalami luka serius.Ketidakhadirannya semakin mencolok ketika tiga saudara laki-lakinya tampak hadir di kompleks Masjid Raya Musalla, tempat jenazah sang ayah disemayamkan untuk penghormatan terakhir.Para pejabat Iran menyatakan bahwa ancaman Israel untuk membunuh Mojtaba Khamenei juga masih berlanjut."Dia ada di hati saya, dan saya berharap dia aman dari Trump dan Netanyahu," kata seorang perempuan yang datang bersama keluarganya dari Hamadan, sekitar empat jam perjalanan dari Teheran, untuk mengikuti prosesi pemakaman.Namun, penyelenggara acara yang mereka sebut sebagai "peristiwa abad ini" berupaya memaksimalkan simbol-simbol lain untuk menyampaikan pesan mereka.Yang paling mencolok adalah patung raksasa berbentuk kepalan tangan yang kini menjulang di Lapangan Enqelab atau Lapangan Revolusi.Monumen yang dijuluki sebagai "kepalan tangan perlawanan" itu dimaksudkan untuk mengirimkan pesan kepada musuh-musuh Iran, baik di luar maupun di dalam negeri, bahwa Republik Islam Iran tidak dapat dikalahkan.--Lyse Doucet, kepala koresponden internasional BBC, melaporkan dari Teheran dengan syarat seluruh laporannya tidak digunakan oleh BBC Persian. Pembatasan tersebut berlaku bagi seluruh organisasi media internasional yang beroperasi di Iran.Apa saja isi perjanjian AS-Iran yang kini telah berlaku?AS dan Iran mencapai kesepakatan damai, Trump berkata 'Biarkan minyak mengalir'Tonton juga video "Trump Klaim Iran Minta Berunding: Tapi Gencatan Senjata Berakhir!"