DI SETIAP pemerintahan, selalu ada satu wajah yang paling mudah dikenali publik. Ia menjadi simbol negara, pusat perhatian media, sekaligus sasaran utama pujian maupun kritik.
Dalam sistem presidensial, wajah itu adalah Presiden. Namun, di balik wajah tersebut sesungguhnya berdiri organisasi politik yang jauh lebih besar, yaitu kabinet.
Ibarat tatanan Makrokosmis Presiden ada bintang, dan kabinet (wapres, menteri atau badan) harus mengitari dan menghiasi orbit itu, bukan membuat orbitnya sendiri.Karena sejatinya kabinet tidak sekadar kumpulan menteri yang menjalankan administrasi pemerintahan, tapi harus punya kesadaran menjaga pemerintahan sebagai negara (kolektivitas administratif) dan sebagai bangsa (kolektivitas semangat dan sosiologis).
Dalam teori pemerintahan modern, kabinet adalah representasi kolektif negara. Setiap menteri memegang mandat Presiden, setiap kebijakan kementerian merupakan kebijakan pemerintah, dan setiap penjelasan yang disampaikan kepada publik seharusnya menjadi bagian dari satu orkestrasi komunikasi yang sama.
Persoalannya, bagaimana jika orkestrasi itu tidak berjalan saling menobang orbit, yaitu presiden, dan bagaimana jika Presiden justru menjadi satu-satunya figur yang memikul hampir seluruh beban persepsi publik, sementara para pembantunya hanya muncul sesekali, bahkan lebih sering berbicara mengenai agenda sektoral daripada menjelaskan arah besar pemerintahan?







