ADA perubahan pola diplomasi yang cukup signifikan dari Presiden Prabowo dalam kurun waktu sebulan terakhir.
Kunjungan ke luar negeri yang masif sejak ia dilantik sebagai presiden pada Oktober 2024, perlahan tapi pasti berkurang, berganti dengan gaya diplomasi yang lebih santai, matang, dan berwibawa dengan mendelegasikan kewenangannya kepada para pembantunya, khususnya menteri luar negeri. Ia juga cukup berkeja dengan khidmat di Istana negara dengan menerima kunjungan kenegaraan dan kehormatan dari banyak pejabat tinggi negara sahabat, mulai dari Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier pada 15 Juni 2026, berlanjut dengan kunjungan Presiden Belarus, Aleksandr Lukashenko, Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, hingga yang teranyar dan masih berada di Jakarta saat ini, Perdana Menteri India, Shri Narendra Damodardas Modi.
Dengan tidak menegasikan faktor-faktor lain yang berkontribusi dalam kebijakan luar negeri Presiden Prabowo, tampaknya kritik dari Dino Patti Djalal—Wamenlu Indonesia 2014, sekaligus pendiri Foreign Policy Community Indonesia (FPCI)—memainkan peranan penting dalam mempengaruhi corak dan gaya diplomasi Presiden Prabowo dalam satu bulan terakhir.
Kritik yang ia sampaikan kepada Presiden Prabowo terasa sangat spesial dan bermakna di tengah keringnya saran dan masukan konstruktif dari pejabat diplomatik yang berada di sekeliling presiden.








