Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan perdagangan Indonesia dan Belarus dapat mencapai US$ 500 juta, meningkat dari angka sebelumnya US$ 220 juta. Target tersebut dibahas usai pertemuan dengan Wakil Perdana Menteri Republik Belarus, Viktor Karankevich.Airlangga mengatakan kunjungan tersebut menjadi bagian dari persiapan lawatan Presiden Belarus Alexander Lukashenko ke Indonesia pada 1 Juli mendatang. Dalam forum bisnis itu, kedua negara menyaksikan penandatanganan 17 nota kesepahaman (MoU) antarpelaku usaha."Nah, pada kesempatan ini tadi disaksikan 17 MoU Business to Business dan kita melihat bahwa perdagangan Indonesia dengan Belarus yang nilainya sekitar US$ 220 juta ini sudah meningkat sejak kita menandatangani I-EAEU," ujar Airlangga dalam Kadin Business Matching Indonesia-Belarus di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Selasa (30/6/2026).
Menurut Airlangga, Belarus merupakan salah satu pusat industri manufaktur alat berat terbesar di kawasan Eurasian Economic Union (EAEU), dengan produksi berkapasitas lebih dari 200 ton. Airlangga mendorong kerja sama elektrifikasi alat berat tersebut menggunakan baterai berbasis nikel Indonesia."Nah salah satu yang kita bisa dorong adalah kalau mereka mau elektrifikasi dari alat berat, nah itu bisa menggunakan baterai storage dari Indonesia. Dan itu kalau bisa kita kerjasamakan kita mendorong alat-alat pertambangan menggunakan listrik, dan itu sesuai dengan pengembangan downstreaming daripada nikel di Indonesia dan mengurangi kebutuhan daripada karbon, daripada solar, bensin," beber Airlangga.Kerja sama lainnya menyangkut pasokan potas, bahan baku utama pupuk NPK yang belum dimiliki Indonesia. Menurut Airlangga, PT Pupuk Indonesia saat ini tengah melakukan uji kelayakan untuk kemungkinan mengambil kepemilikan saham di tambang potas di Belarus."Bukan peningkatan impor, peningkatan dari kepemilikan saham di dalam tambang. Karena kalau tanpa kepemilikan, seperti sekarang kalau ada disrupsi, impornya juga bisa terdisrupsi," jelasnya.Airlangga berharap perjanjian kerja sama Indonesia dengan Eurasian Economic Union (I-EAEU) segera diratifikasi agar manfaatnya dapat segera dirasakan. Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto telah menyiapkan surat kepada DPR, sementara Rusia dan Belarus sudah lebih dulu meratifikasi perjanjian tersebut."Dan kita berharap penandatangan I-EAEU ini segera di ratifikasi. Bapak Presiden sudah mempersiapkan surat ke DPR untuk Rusia dan Belarus sudah meratifikasi perjanjian ini. Sehingga dengan demikian hampir 90% lebih produk Indonesia masuk I-EAEU termasuk Belarus dengan bea masuk nol, demikian pula dengan sebaliknya," sebut Airlangga.Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Belarus Viktor Karankevich menyatakan hubungan kedua negara terus berkembang di berbagai sektor, mulai dari pertanian, kesehatan, pendidikan, hingga teknologi. Ia optimistis kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Belarus akan meningkat."Tentu saja, terdapat area untuk kooperasi seperti agrikultur, medis, pendidikan, dan forum hari ini, forum bisnis, juga menunjukkan bahwa potensi untuk kooperasi antara negara-negara kita sangat besar," ujar Karankevich.







