JAKARTA, KOMPAS.com - Penguatan dollar Amerika Serikat (AS) menjadi katalis positif bagi sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berorientasi ekspor.
Saham sektor batu bara, logam dan mineral, minyak dan gas (migas), hingga pulp & paper berpeluang mencatatkan kinerja solid karena mayoritas pendapatannya berbasis dollar AS, sementara sebagian besar biaya operasional masih menggunakan rupiah.
Dolar AS diperkirakan tetap menguat pada paruh kedua 2026, seiring dengan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan derasnya arus investasi ke aset-aset AS di tengah kuatnya ekonomi AS.Dikutip dari Reuters, indeks dolar AS (DXY) telah menguat sekitar 3 persen sejak awal tahun. Adapun, indeks dollar AS melemah selama dua sesi berturut-turut dan ditutup di level 101,1 pada perdagangan Jumat (26/6/2026).
Baca juga: Prediksi IHSG Jumat 26 Juni 2026: Waspada Koreksi, Ini Rekomendasi Saham Pilihan Analis
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan perkasanya dollar AS umumnya memberikan dampak yang berbeda bagi setiap sektor saham di bursa tanah air, bergantung pada struktur pendapatan dan biaya masing-masing perusahaan.







