Jakarta - Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) memberikan tekanan terhadap industri nasional, mengingat sebagian bahan baku masih bergantung pada impor. Pemerintah pun mulai mendorong pelaku industri mengurangi ketergantungan terhadap transaksi Dolar AS.Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Ariefmengatakan sekitar 24% struktur bahan baku industri nasional masih berasal dari impor. Kondisi ini membuat biaya produksi rentan naik ketika rupiah tertekan.Menurutnya, penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) perlu diperluas agar transaksi impor bahan baku tidak lagi sepenuhnya menggunakan dolar AS. Dengan begitu tekanan terhadap industri akibat pelemahan rupiah bisa berkurang.

"Struktur input industri, terutama struktur bahan baku, 24% itu impor. Nah, kita juga selain krisis di Selat Hormuz, juga saat ini mengalami perlemahan nilai tukar Rupiah. Dengan struktur bahan baku 24% dari impor itu, strategi ke depan kita akan coba menghimbau industri untuk tetap menggunakan fasilitas LCT, Bank Indonesia," ujar Febri dalam rilis Indeks Kepercayaan Industri di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (26/5/2026).Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar dolar AS terus menguat terhadap rupiah. Dolar AS menguat 0,29% atau 52 poin mendekati level Rp 17.800 atau tepatnya berada di level Rp 17.796.Dengan skema LCT, importir bisa membeli barang dari luar negeri tanpa menggunakan mata uang negeri Paman Sam. Transaksi dilakukan menggunakan mata uang lokal sesuai kesepakatan kedua belah pihak."Jadi pembelian bahan baku oleh industri, oleh importir yang memasok bahan baku ke industri, itu tidak menggunakan dolar, tapi menggunakan mata uang lokal," jelas Febri.Selain itu, pelaku industri juga diminta mulai mengubah sumber bahan baku impor dari negara lain guna mengurangi risiko gangguan rantai pasok global. Langkah ini dinilai penting di tengah ketidakpastian global, termasuk tensi di kawasan Selat Hormuz.Tak hanya itu, Febri juga mendorong investor membangun fasilitas produksi bahan baku di dalam negeri untuk menggantikan impor. Menurutnya kondisi saat ini bisa menjadi momentum memperkuat industri substitusi impor di Indonesia."Atau juga pada investor kami sampaikan, ini lah saatnya bagi investor untuk membangun, berinvestasi di Indonesia untuk membangun fasilitas produksi yang memproduksi substitusi bahan baku impor," tutup Febri.