Jakarta - Tidak ada yang tak mungkin selama mau berusaha. Itulah yang diamini oleh Riene Mahardiani (44), seorang penyintas kanker usus stadium akhir yang kini sukses membangun usaha premium botanical print dengan jenama ZEE Collection.Sore itu, Sabtu (21/6), Riene yang akrab disapa Zee mengikuti sebuah bazar Pesta Wirausaha Nasional di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC). Ditemani suaminya, ia dengan bangga memamerkan produk unggulannya yang pernah ekspor ke berbagai negara.Di hadapan para calon pembeli, Zee menjelaskan detail pertanyaan terkait kain-kain yang tersusun rapi di rak. Seperti sejumlah outer, syal, sling bag, hingga mukena yang memiliki motif dedaunan dengan warna cerah alami.

"Orang bisa bilang ini eco-print, walaupun sebenarnya secara harfiah ada yang harus dibenahi dari situ. Kalau ZEE Coll itu premium botanical print. Kita spesialis hanya menggunakan pewarna dan motif-motif dari alam Indonesia," ujarnya kepada detikcom belum lama ini.Kisah Penyintas Kanker Ekspor Kain Botanical Print ke Prancis-Brazil Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcomTembus Pasar EksporZee mengaku usaha yang dirintis pada tahun 2020 ini telah rutin menembus pasar ekspor. Hingga saat ini, produk premium botanical print miliknya telah menjangkau berbagai negara, mulai dari Prancis, Brazil, hingga pasar ASEAN seperti Thailand dan Malaysia."Tapi yang rutin setiap tahun itu Dubai. Tapi tahun kemarin sempat berhenti karena ada problem di sananya dari pengusahanya tapi hubungannya masih baik," ungkapnya.Menurut Zee, pasar internasional awalnya sempat skeptis dan terheran-heran melihat kualitas produk handmade yang ia tawarkan. Sebab, cetakan motif dari daun asli di kain ZEE bisa menghasilkan warna yang pekat dan bersih."Di global itu masih belum ngeh bahwa bisa ya handmade sebersih itu, sebersih punya Zee. Handmade bisa se-bold itu, bisa menggantikan factory print yang pakai mesin. Ini dari daun asli bisa bold kayak gini, dan sudah lemas, sudah enggak luntur," jelasnya.Kualitas tekstur kain inilah yang menurut Zee menjadi edukasi penting bagi masyarakat ketika ingin membeli produk botanical print. Kain yang diproses dengan benar seharusnya sudah terasa lemas dan lembut saat disentuh."Nah ini yang harusnya dipahami oleh masyarakat ketika mau beli. Dipegang tuh harus sudah lemas. Kalau masih kaku, masih panas, berarti masih ada tawas di dalam. Itu bikin kain lapuk," bebernya.Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcomProduksi di PurwokertoZee mengungkap proses pembuatan satu kain berukuran 2,5 meter ini membutuhkan proses yang panjang sekitar 10-15 hari pengerjaan. Hal itu dilakukan agar bisa menghasilkan warna alami kain yang mampu bertahan hingga bertahun-tahun."Karena kita sudah R&D sendiri untuk mendapatkan kualitas yang terbaik. Produk kita itu bahannya bisa tahan 5 tahunan dan motifnya masih sama. Pewarna tidak luntur, dicuci, digosok biasa, bisa. Selama bahannya katun dan rayon, masih boleh pakai mesin cuci," ungkap Zee.Adapun proses produksi kain ini dilakukan Purwokerto, Jawa Tengah, karena membutuhkan lahan yang luas. Lahan yang luas itu tidak hanya digunakan Zee untuk mengolah kain, tetapi juga menjadi tempat bagi sebuah misi lingkungannya sebelum proses produksi dimulai."Di balik ZEE Coll ini kita punya program replanting (penanaman kembali) oleh crafter-crafter kita. Jadi sebelum produksi, kita mengutamakan replanting. Dan itu juga yang saya bagikan kepada murid-murid binaan saya. Kalau saya mengajar, saya tidak hanya mengajarkan skill, tapi cara berpikirnya dulu," jelas Zee.Kini, dampak sosial yang dihasilkan dari komitmen Zee telah menyentuh akar rumput. Di workshop internalnya saja, Zee telah memayungi 45 perajin tetap. Tak hanya itu, ia juga membina para perajin di lima kabupaten serta aktif melakukan kurasi produk botanical print di tingkat nasional."Sebenarnya dengan membantu ZEE Coll, berarti kita membantu negara karena ini langsung menyentuh ke grassroots (akar rumput). Kalau di ZEE Coll sendiri, tim internal bisa memproduksi sampai 1.200-an kain dalam satu bulan. Itu belum diproses lagi menjadi baju dan produk-produk lain yang pengerjaannya bermitra dengan mitra-mitra yang berbeda lagi," jelasnya.Bangkit dari KankerDiketahui, sebelum sukses seperti sekarang perjalanan Zee membangun usaha ini bermula dari sebuah ujian berat. Pada tahun 2012, ia didiagnosis mengidap kanker usus besar (colon cancer) stadium akhir. Kondisi kesehatan ini memaksanya membatasi aktivitas luar ruang.Sebelum terjun total ke dunia wastra, wanita lulusan Politeknik ITB (2001) dan FISIP Universitas Padjadjaran (2003) ini sempat mencicipi asam garam dunia kerja, mulai dari pekerja kantoran, make-up artist (MUA), hingga mendirikan wedding organizer.Visi fesyennya kian terasah tajam ketika ia berkesempatan menempuh studi di CREFO Formation di Lille, Prancis, pada tahun 2009. Di sana, Zee rajin mengunjungi berbagai museum fesyen dan tekstil untuk memperdalam ilmunya.Selain itu, berbekal latar belakang pendidikan kimia yang kuat, kecintaan pada fesyen, dan proses pemulihan pasca-kanker, Zee akhirnya merintis ZEE Coll pada tahun 2020, tepat saat pandemi COVID-19 melanda."Sekarang (kondisi fisik) saya masih maintain, makanya kadang gampang up and down dan capek. Tapi saya happy. Karena bagi saya, tujuan utama sebelum mencari keuntungan adalah spreading the word tentang kesehatan diri dan lingkungan," ungkap Zee.Berbekal Modal Rp 50 RibuZee mengaku kondisi ekonominya sempat berada di titik terendah akibat seluruh tabungannya habis terkuras untuk biaya pengobatan kanker. "Kondisi uang saya saat itu sudah sampai nol. Saya bahkan sempat tidak berani operasi karena sama sekali tidak ada biaya," kenang Zee.Ia bahkan pernah berada di fase sangat sulit. Namun, keterbatasan itu tidak mematikan kreativitasnya. Bermodalkan uang Rp 50 ribu, Zee membeli selembar kain dan bereksperimen menggunakan karat besi untuk menciptakan motif unik, lalu mengunggah hasilnya di status media sosial.Tak disangka, unggahan tersebut langsung menarik perhatian seorang pembeli yang berniat membelinya seharga Rp 3,5 juta untuk kain sepanjang 2 meter. Mendengar nominal sebesar itu, Zee sempat tertegun lama karena terkejut."Si pembeli malah bilang, 'Aduh maaf, terlalu murah ya Mbak? Maaf saya cuma punya uang segitu, kalau mau dibeli segitu.' Padahal saya diam lama itu karena heran, kok bisa kain ini dihargai semahal itu? Ternyata laku," ujarnya sambil tersenyum.Pengalaman berharga tersebutlaha akhirnya menjadi titik balik bagi Zee. Sejak saat itu, ia memantapkan diri untuk menekuni usaha botanical print ini dengan jauh lebih serius setelah menyadari bahwa karyanya mendapat apresiasi yang sangat tinggi.Pendampingan Rumah BUMN BRISaat ini, meski usahanya telah berkembang pesat, Zee tetap aktif mencari peluang pasar baru dengan bergabung dalam Rumah BUMN BRI Jakarta. Wadah inkubasi ini mendampingi para pelaku UMKM agar bisa naik kelas lewat berbagai pelatihan mandiri, akses permodalan, hingga perluasan pasar."Beberapa produk ZEE Coll sudah masuk di Rumah BUMN BRI Jakarta. Pelatihan-pelatihan yang diberikan sangat rutin dan benar-benar membantu bagaimana mengelevasi UKM agar bisa mandiri. Pelajarannya juga banyak sekali untuk mereka yang mau belajar," tutur Zee.Selain itu, Zee juga sempat berpartisipasi dalam Growpreneur hingga berhasil menembus babak finalis di ajang BRIncibator. Tak hanya itu, produknya pun sukses lolos kurasi ketat dalam ajang BRI UMKM EXPO(RT). Sayangnya, pencapaian besar tersebut terganjal oleh situasi pandemi beberapa tahun lalu."Saya sebenarnya sudah menang dua program dari BRI, tapi dua-duanya tidak sempat merasakan pameran offline. Waktu lolos BRI UMKM EXPO(RT) itu pas masa COVID-19, jadi pamerannya hanya diadakan secara online dari daerah, dan saat itu saya belum bisa ke Jakarta," ungakpany.Bagi Zee, kesempatan untuk memamerkan produk secara langsung di acara berskala besar seperti pameran tahunan BRI adalah momentum yang sangat penting. Karakteristik produk premium botanical print yang ia rintis tidak bisa hanya dilihat daring, produk tersebut butuh disentuh dan dirasakan langsung kualitasnya oleh calon pembeli."Makanya saya sangat berharap bisa ikut pameran kembali. Saya ingin sekali menunjukkan produk ini, karena ZEE Coll ini sebenarnya salah satu leader di industrinya untuk Indonesia. Di pameran fisik seperti itulah saya butuh bertemu langsung dengan masyarakat untuk mengedukasi mereka," jelasnya.Memanfaatkan QRIS BRISelain fokus pada edukasi produk dan perluasan pasar, Zee juga sangat memperhatikan kemudahan dan kenyamanan para pelanggannya saat bertransaksi. Di era digital saat ini, kelancaran proses pembayaran menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam setiap pameran yang ia ikuti.Oleh karena itu, dalam setiap kesempatan bazar atau pameran termasuk di ajang Pesta Wirausaha Nasional kali ini, Zee mengaku selalu mengandalkan fasilitas pembayaran digital dari BRI untuk mempermudah operasional usahanya."Untuk mempermudah transaksi selama mengikuti pameran atau bazar, saya memanfaatkan QRIS BRI. Kehadiran QRIS ini sangat mempermudah proses pembayaran, sehingga pembeli bisa membayar dengan nominal yang pas untuk setiap pembelian tanpa repot," jelas Zee.Dengan pemanfaatan teknologi finansial ini, Zee tidak perlu lagi memikirkan urusan uang kembalian atau risiko pencatatan manual yang keliru. Segala transaksi terekam dengan rapi dan instan.Go Global Bersama BRISementara itu, pada kesempatan terpisah, Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana mengatakan Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah bagi para pelaku usaha lokal untuk berkembang. Pihaknya berkomitmen memberikan pembinaan secara gratis untuk membantu menemani UMKM dari awal hingga naik kelas.Menurutnya, UMKM tidak sekadar tumbuh, melainkan bertransformasi menuju kemandirian ekonomi digital yang berkelanjutan. Salah satu contoh nyata adalah Zee dengan ZEE Collection, pelaku usaha yang mengawali perjuangannya membangun bisnis dari nol lewat proses belajar dan pendampingan di sini.Zee hanyalah satu dari sekian banyak kisah sukses UMKM. Di Rumah BUMN BRI, berkumpul ribuan pelaku usaha dari berbagai sektor, mulai dari kuliner minuman, fesyen, kerajinan tangan, hingga penyedia jasa. Total ada sekitar 11.000 UMKM binaan yang bernaung di bawah Rumah BUMN BRI, di mana 6.000 di antaranya aktif bergerak mengikuti berbagai program pemberdayaan."Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena permasalahan UMKM itu banyak dan bermacam-macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut," jelasnya.Jajang mengungkapkan UMKM saat pertama kali bergabung Rumah BUMN BRI, UMKM akan diarahkan untuk mengisi scoring di Link UMKM. Hasilnya akan menjadi semacam rapor awal berbentuk sertifikat yang memetakan 3 aspek terunggul dan 3 aspek terendah dari usaha tersebut."Kami akan mengarahkan mereka untuk fokus mengikuti pelatihan pada 3 aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program pelatihan dengan mengundang narasumber yang ahli expert di bidangnya," terangnya.Jajang menyebut bersama BRI, UMKM tak hanya tumbuh tapi juga bertransformasi menuju ekonomi digital yang mandiri dan berkelanjutan. "Setiap senyuman dari pelaku UMKM yang berhasil naik kelas adalah energi bagi kami," ujarnya.Hingga tahun 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, tercatat ada sekitar 6.000 UMKM yang aktif mengikuti berbagai program pelatihan dan pendampingan."Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi," pungkasnya.