Jakarta - Aroma segar cokelat premium samar-samar tercium dari sebuah booth bernuansa kayu minimalis di sudut pameran. Di balik meja yang tertata rapi dengan jajaran stoples bubuk minuman, tangan Redi Noverindo cekatan mengaduk segelas coklat pesanan pengunjung.Di samping kanannya, berdiri X-banner kuning cerah berlogo Halal Indonesia serta berbagai varian rasa minuman. UMKM dengan jenama Zdrink ini hadir di bazar Smesco Indonesia, Jakarta Barat, dalam rangka memperingati Hari Kewirausahaan dan UMKM Nasional 2026.Kepada detikcom, Redi yang mengenakan kemeja cokelat sederhana dengan ramah menceritakan detail perjuangannya merintis usaha pada tahun 2022. Hal ini berawal dari pengamatannya terhadap kebiasaan anak sekolah yang gemar membeli minuman aneka rasa.
Ide itu lahir ketika dirinya tidak lagi bekerja dan tengah mencari peluang bisnis baru. Ia sempat membuka usaha donat pada tahun 2020. Namun, usaha tersebut mengalami kebuntuan di 2021 hingga membuatnya harus mengambil jeda sejenak."Nah pas tahun 2022 baru kepikiran lah buat jual minuman. Terinspirasi dari anak-anak sekolah yang sempat beli minuman boba, carinya susah. Pada saat itu, yaudah kenapa enggak bikin aja. Buat di rumah, gitu kan," ujarnya kepada detikcom belum lama ini.Tepat pada 10 Maret 2022, Redi resmi mendirikan bendera usahanya bernama Zdrink. Nama ini diambil dari target pasarnya, yaitu generasi Z yang menggemari minuman manis namun tetap praktis dan higienis.Ia mulai usaha ini dengan modal awal sekitar Rp 5 juta. Redi mulai menjajakan minuman siap saji dengan varian rasa cokelat, stroberi, alpukat, dan oreo di lapak sederhana depan Sekolah Dasar Kelapa Dua, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.Perlahan tapi pasti usahanya berkembang. Selain menyediakan minuman siap seduh yang praktis, pria asal Lampung ini juga mengembangkan produk bubuk coklat dalam kemasan yang bahan bakunya diperoleh dari petani kakao.Redi tergerak untuk mengangkat potensi tanah kelahirannya sekaligus membantu para petani kakao lokal yang kerap kesulitan memasarkan hasil panen mereka. Ia berinisiatif menyerap langsung bahan baku tersebut untuk diolah kembali di Jakarta."Ini racikan sendiri. Dan bubuk ini dari kakao Lampung yang udah intermediate ya, dalam artian bukan bahan mentah, tapi setengah jadi. Terus dari Lampung dikirim ke Jakarta dan di Jakarta saya olah lagi menjadi bubuk coklat yang siap langsung seduh," jelasnya.Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcomBerkembang Bersama Rumah BUMN BRIRedi kemudian aktif bergabung ke Rumah BUMN BRI. Rumah BUMN BRI merupakan wadah bagi pelaku UMKM untuk tumbuh dan naik kelas dengan memberikan pelatihan, inkubasi hingga akses permodalan dan pasar untuk anggotanya.Redi mengaku mengenal program pemberdayaan BRI ini dari media sosial Instagram. Langkah ini diambil karena ia ingin bisnisnya terus berkembang menjangkau pasar yang lebih luas sehingga tidak monoton dengan hanya berjualan di lingkungan sekolah."Awalnya saya cuma menerka-nerka, karena jualan di sekolahan itu terasa monoton, begitu-begitu saja. Sampai akhirnya saya lihat informasi pendaftaran dan bergabung ke grup Rumah BUMN BRI," kenang Redi.Melalui wadah binaan BRI ini, Zdrink mendapatkan akses ke berbagai pelatihan intensif secara gratis yang digelar secara rutin. Pelatihan tersebut mencakup penyusunan laporan keuangan, pengurusan legalitas, strategi pemasaran, digitalisasi, hingga pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan Artificial Intelligence atau AI untuk pengembangan bisnis.Tak hanya pelatihan, Redi juga mendapatkan fasilitas pengurusan sertifikasi halal reguler. Kesempatan ini terbilang istimewa karena dari sekitar 600 pelaku UMKM di dalam grup, hanya 200 peserta dikurasi yang berhasil masuk nominasi untuk mendapatkannya, termasuk Zdrink.Berbeda dengan skema self-declare yang memiliki keterbatasan, sertifikasi halal reguler memungkinkan Redi mendaftarkan varian produk dalam jumlah yang jauh lebih banyak tanpa dipungut biaya sepeser pun."Kalau yang self-declare beberapa, tapi yang reguler itu banyak dan yang seharusnya dibayar sekian juta atau berapa, tapi ini alhamdulillah gratis dan prosesnya cepat lagi," ungkapnya.Kehadiran sertifikat halal ini diakui Redi menjadi titik balik besar yang mendongkrak kepercayaan diri. Zdrink yang semula dipasarkan lewat metode tradisional kini mantap melangkah ke pasar yang lebih luas.BRIncubator Perluas PasarSetelah itu, Redi juga berpartisipasi dalam program BRIncubator yang merupakan program unggulan Rumah BUMN BRI. Menurutnya, program ini tak hanya menambah wawasan, tetapi juga membuka peluang promosi yang lebih luas melalui berbagai kegiatan pemasaran."Alhamdulillah itu tahun 2023 terpilih juga. Dari beberapa 300 besar Jakarta. Saya masuk nominasi 50 besar. Bisa ikut BRIncubator dan dapat training selama 3 bulan," terangnya.Partisipasi dalam program tersebut membuat Zdrink semakin dikenal masyarakat. Ia kerap dilibatkan dalam bazar dan pameran UMKM sehingga mampu mengenalkan produknya kepada konsumen baru sekaligus memperluas jaringan bisnis.Selain itu, Zdrink juga kini menggunakan layanan transaksi digital yang disediakan BRI. Pemanfaatan QRIS BRI disebutnya membantu proses pembayaran menjadi lebih praktis bagi pelanggan."QRIS ini sangat membantu dan memudahkan pelanggan, selain itu, pencatatan keuangan juga tertata rapi," sebutnya.Menurutnya, transformasi digital jadi salah satu faktor penting dalam mendukung perkembangan usahanya. Sebab, hal ini memberikan pengalaman transaksi yang lebih nyaman bagi konsumen dengan sistem pembayaran yang mudah dan cepat.Saat ini, dalam menjalankan bisnisnya, Zdrink tidak hanya mengandalkan penjualan di gerai fisik. Produk-produknya juga dipasarkan melalui marketplace, bazar, hingga berbagai pameran UMKM yang memungkinkan jangkauan pasar semakin luas seperti di Smesco Indonesia ini.Redi mengaku dalam sebulan bisa menjual nyaris 1.000 cup. Adapun omzet yang didapat sekitar Rp 6 juta - Rp 7 juta per bulannya. Pendapatan tersebut menjadi modal berharga bagi Redi untuk terus memutar roda produksi dan bersiap melakukan ekspansi yang lebih besar ke depannya.Kata PengunjungTak heran, keaslian rasa cokelat ini rupanya menjadi magnet tersendiri bagi para pencinta minuman cokelat. Salah satunya Rian (28), mengaku kepincut dengan karakter rasa cokelatnya yang dinilai berbeda dengan minuman siap saji pada umumnya."Cokelatnya terlihat premium dan beda dari minuman biasanya. Manisnya pas sih, nggak bikin seret di tenggorokan. Rasa khas cokelatnya juga asli sangat pekat," ungkap Rian.Senada dengan Rian, Amel (34) seorang pegawai swasta yang berkunjung ke Smesco mengaku kerap menyetok bubuk cokelat kemasan untuk konsumsi keluarganya di rumah karena dinilai sangat praktis."Suka banget sama bubuk cokelat kemasan. Praktis tinggal seduh sendiri di rumah pakai air hangat dan sedikit susu. Jadi cocok buat stok kalau lagi butuh mood booster," tutur Amel.Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcomTeman UMKM Naik KelasSementara itu, pada kesempatan terpisah, Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana mengatakan Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah bagi para pelaku usaha lokal untuk berkembang. Pihaknya berkomitmen memberikan pembinaan secara gratis untuk membantu menemani UMKM dari awal hingga naik kelas.Menurutnya, UMKM tidak sekadar tumbuh, melainkan bertransformasi menuju kemandirian ekonomi digital yang berkelanjutan. Salah satu contoh nyata adalah Redi Noverindo dengan Zdrink, pelaku usaha yang mengawali perjuangannya membangun bisnis dari nol lewat proses belajar dan pendampingan di sini.Redi hanyalah satu dari sekian banyak kisah sukses UMKM. Di Rumah BUMN BRI, berkumpul ribuan pelaku usaha dari berbagai sektor, mulai dari kuliner minuman, fesyen, kerajinan tangan, hingga penyedia jasa. Total ada sekitar 11.000 UMKM binaan yang bernaung di bawah Rumah BUMN BRI, di mana 6.000 di antaranya aktif bergerak mengikuti berbagai program pemberdayaan."Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena permasalahan UMKM itu banyak dan bermacam-macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut," jelasnya.Jajang mengungkapkan UMKM saat pertama kali bergabung Rumah BUMN BRI, UMKM akan diarahkan untuk mengisi scoring di LinkUMKM. Hasilnya akan menjadi semacam rapor awal berbentuk sertifikat yang memetakan 3 aspek terunggul dan 3 aspek terendah dari usaha tersebut."Kami akan mengarahkan mereka untuk fokus mengikuti pelatihan pada 3 aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program pelatihan dengan mengundang narasumber yang ahli expert di bidangnya," terangnya.Jajang menyebut bersama BRI, UMKM tak hanya tumbuh tapi juga bertransformasi menuju ekonomi digital yang mandiri dan berkelanjutan. "Setiap senyuman dari pelaku UMKM yang berhasil naik kelas adalah energi bagi kami," ujarnya.Hingga tahun 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, tercatat ada sekitar 6.000 UMKM yang aktif mengikuti berbagai program pelatihan dan pendampingan."Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi," pungkasnya.








