Penulis: David Hutt/DW Indonesia
KOMPAS.com - Selama bertahun-tahun, Laut China Selatan dipandang sebagai salah satu titik rawan yang berpotensi memicu konflik geopolitik yang kian memanas antara China dan Amerika Serikat (AS).Negara-negara Asia Tenggara seringkali digambarkan sebagai kekuatan lebih kecil yang terjebak di tengah pusaran persaingan tersebut.
Namun, gambaran itu kini mulai berubah seiring terbentuknya jaringan keamanan baru di kawasan tersebut.
Baca juga: Beijing Andalkan Benda Aneh Ini demi Perkuat Klaim Laut China Selatan
Jaringan ini sendiri tidak dibangun melalui aliansi formal, melainkan melalui perjanjian akses, penjualan rudal, latihan otoritas keamanan laut, pembicaraan antar intelijen, serta konsultasi pertahanan.







