Jakarta -
Jakarta akan memasuki usia lima abad. Kota metropolitan ini makin maju, gedung pencakar langit bertambah, layanan digital dan transaksi keuangan semakin canggih. Namun di balik wajah modern itu, masih hidup berbagai praktik ekonomi berbasis komunitas yang telah bertahan lintas generasi.Siapa yang pernah mendengar nama Arisan Mampangan? Bagi sebagian masyarakat Betawi dan warga pinggiran Jakarta, termasuk di Depok, Arisan Mampangan bukan sekadar tradisi menjelang Hari Raya. Ia adalah instrumen keuangan mikro yang membantu keluarga mengelola pengeluaran, menabung secara disiplin, sekaligus menjaga solidaritas sosial di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.Keberadaan Arisan Mampangan menjadi menarik karena tetap bertahan ketika masyarakat telah memiliki berbagai pilihan layanan keuangan formal, mulai dari tabungan perbankan hingga dompet digital. Di tengah berbagai inovasi tersebut, banyak keluarga masih mempercayakan sebagian pengelolaan keuangannya kepada mekanisme kolektif berbasis gotong royong yang dijalankan oleh sesama warga.
Fenomena ini menunjukkan bahwa inklusi keuangan tidak selalu lahir dari institusi formal. Dalam banyak kasus, masyarakat justru menciptakan solusi keuangannya sendiri yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan konteks sosial mereka. Arisan Mampangan adalah salah satu contoh bagaimana kearifan lokal terus memainkan peran penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.Warisan yang Tak Lekang ZamanArisan merupakan budaya kolektif yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Selain menjadi sarana mengelola keuangan, arisan juga berfungsi sebagai ruang sosial yang mempererat hubungan antarwarga melalui pertemuan dan interaksi rutin.Nama "Mampang" sendiri memiliki akar sejarah yang panjang. Menurut budayawan Rachmat Ruchiat dalam buku Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta, Mampang merujuk pada nama sungai yang berhulu di kawasan Ragunan dan bermuara ke Kali Krukut, yang pada masa kolonial menjadi salah satu penanda batas wilayah kekuasaan tuan tanah Belanda. Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan hingga kini melalui berbagai kawasan bernama Mampang, baik di Jakarta maupun Depok.Tidak mengherankan jika tradisi Arisan Mampangan juga berkembang dan bertahan di kedua wilayah tersebut. Di tengah berbagai perubahan sosial dan ekonomi, praktik ini tetap menemukan relevansinya dari generasi ke generasi.







