Wacana kenaikan tarif Transjakarta yang sudah bertahan selama dua dekade ini mulai memunculkan kegelisahan baru di kalangan pengguna

Ilustrasi : Fathul Habib Sholeh/Antara

Antrean di halte Transjakarta Kalideres mulai mengular. Orang-orang berdiri seolah sudah hafal posisi masing-masing. Sebagian menggenggam kartu elektronik, sebagian lagi menatap layar ponsel tanpa benar-benar membaca.

Raka Pratama berdiri di barisan tengah. Tas ransel hitamnya tampak penuh, menggantung di satu bahu. Ia menunggu bus rute 3F Kalideres–Senayan Bank DKI, jalur yang sudah ia hafal di luar kepala, termasuk kapan biasanya datang, dan kapan harus bersiap jika terlambat.

Lelaki 29 tahun itu bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan logistik di kawasan Sudirman. Ia tinggal di kontrakan kecil di perbatasan kota Jakarta Barat dan kota Tangerang bersama istrinya. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan hampir tiga jam di jalan, perjalanan yang, mau tidak mau, menjadi bagian dari hidupnya. Berangkat sebelum matahari naik, pulang ketika langit sudah gelap.