PERTANYAAN tersebut mungkin terdengar sederhana ketika disampaikan, tapi menjadi sebuah komplikasi yang tak mudah dijelaskan ketika harus direspons dengan sebuah atau beberapa jawaban.
Diskursus menarik hadir di antara para pemangku kepentingan global—kepala negara, diplomat, akademisi hubungan internasional, ketika menyaksikan fenomena global kontemporer dewasa ini yang dipenuhi oleh laku sikap negara-negara besar yang cenderung menghegemoni negara lain.Rusia menyerang Ukraina pada 2022, Amerika Serikat (AS) melakukan aksi militeristik terhadap Venezuela dan Iran pada 2026, serta brutalisme perang yang dikobarkan Israel di Gaza Palestina dan Lebanon saat ini.
Pertanyaan yang muncul; inikah bentuk tatanan dunia baru (the new world order) tempat masyarakat global hidup dan eksis ke depan?
Ketika Tembok Berlin runtuh pada 9 November 1989 yang menandai berakhirnya pembatasan transit antara Jerman Timur dan Jerman Barat, komunitas global menyebutnya sebagai simbolisasi kejatuhan Blok Komunis di Eropa.
Puncaknya adalah ketika Mikhail Gorbachev mengundurkan diri sebagai Presiden Uni Soviet pada 25 Desember 1991 dan parlemen tertinggi Uni Soviet mengeluarkan deklarasi yang mengakhiri eksistensi negara tersebut, memecahnya menjadi 15 negara merdeka.






