PULAU Sumatera kembali menghadapi persoalan yang sesungguhnya tidak boleh terjadi di wilayah yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional.
Dalam beberapa pekan terakhir, antrean panjang kendaraan di berbagai SPBU menjadi pemandangan yang lazim.
Truk pengangkut hasil perkebunan, bus antarkota, kendaraan logistik, hingga masyarakat pengguna kendaraan diesel harus menunggu berjam-jam hanya untuk mendapatkan solar.Di beberapa daerah, sopir bahkan mulai mengantre sejak dini hari karena khawatir stok habis sebelum giliran mereka tiba.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan energi. Kelangkaan solar telah berubah menjadi persoalan ekonomi, logistik, bahkan daya saing kawasan.
Ketika bahan bakar tidak tersedia, maka distribusi barang terganggu, biaya angkutan meningkat, harga kebutuhan pokok berpotensi naik, dan produktivitas ekonomi menurun.








