MARI kita kembali ke masa di mana waktu seakan berhenti setiap empat tahun sekali.

Di Indonesia, Piala Dunia dulu bukanlah sekadar ajang olahraga; ia adalah ritual nasional yang mampu menyatukan jutaan orang dari berbagai latar belakang dalam satu emosi kolektif.Ingatlah bagaimana setiap pagi, halaman depan surat kabar atau Tabloid menjadi santapan pagi bagi setiap keluarga.

Anak-anak hingga dewasa dengan khidmat mengisi kolom skor pertandingan di poster resmi yang ditempel di dinding rumah, sebuah ritual sederhana namun bermakna yang dilakukan secara seragam di hampir seluruh pelosok negeri.

Pada era itu, media cetak dan siaran televisi nasional memegang kendali penuh atas cakrawala informasi kita.

Kita semua mendengarkan ulasan dari komentator yang sama, tertawa pada guyonan yang sama, dan meresapi analisis yang sama.