Jakarta -
Lonjakan perjalanan dan pariwisata yang selama ini diharapkan dari penyelenggaraan Piala Dunia 2026 belum terlihat. Piala Dunia yang menjadi ajang olahraga terbesar tahun ini diselenggarakan di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko.Selama bertahun-tahun, turnamen tersebut diperkirakan menjadi durian runtuh bagi industri perjalanan AS. Namun, terjadi penurunan jumlah wisatawan internasional yang berkunjung ke AS, seiring munculnya kekhawatiran kelompok hak asasi manusia di negara tersebut.Gelombang suporter yang sebelumnya diharapkan membanjiri kota-kota tuan rumah tak kunjung terlihat. Kondisi itu memaksa banyak hotel menurunkan tarif kamar.
Pemesanan tiket pesawat ikut melemah setelah harga penerbangan melonjak tajam, sementara mahalnya tiket pertandingan semakin menekan minat penonton. Sejumlah analis industri menilai antusiasme terhadap turnamen kali ini juga lebih rendah dibandingkan Piala Dunia sebelumnya.Awal yang lesu ini menunjukkan pola bisnis Piala Dunia yang selama ini mengandalkan kedatangan suporter internasional dengan pengeluaran besar mulai kehilangan daya tarik. Tingginya biaya perjalanan, kendala visa, serta rumitnya mobilitas antarkota tuan rumah di tiga negara berbeda menjadi faktor penghambat.Wisatawan domestik AS pun belum mampu menutup kekurangan tersebut. Sepak bola masih kalah populer dibandingkan sejumlah olahraga lain di negara Paman Sam."Secara keseluruhan ini mengecewakan. Tidak ada kata lain yang bisa saya gunakan," kata CEO Hotel Association of New York City, Vijay Dandapani dikutip dari Reuters, Jumat (12/6/2026).Asosiasi tersebut memangkas proyeksi pendapatan hotel yang terkait dengan Piala Dunia hingga 60% menjadi sekitar US$60 juta.












