PADA akhir Maret 2026, Filipina mengumumkan darurat energi nasional. Penyebabnya bukan bencana alam, bukan pula kegagalan kebijakan domestik, melainkan sebuah selat sempit yang jaraknya hampir tujuh ribu kilometer dari Manila.
Ketika Selat Hormuz lumpuh akibat perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, negara kepulauan di Asia Tenggara itulah yang lebih dulu jatuh.Hampir seluruh minyak mentah Filipina diimpor dari Timur Tengah, tanpa cadangan strategis yang memadai.
Pengalaman pahit itu agaknya membekas. Awal Juni ini, Menteri Luar Negeri Filipina Maria Theresa Lazaro menyampaikan peringatan yang layak kita renungkan bersama: Laut China Selatan tidak boleh menjadi Selat Hormuz berikutnya.
Kalimat itu bukan retorika kosong. Ia lahir dari kesadaran bahwa apa yang terjadi di Teluk bisa terjadi di halaman rumah kita sendiri, dengan skala kerusakan yang jauh lebih besar.
Anatomi Sebuah Titik Cekik














