Dilema penjual online, bertahan di marketplace dengan potongan besar, atau keluar dan mencari jalur penjualan mandiri
Notifikasi pesanan berbunyi nyaris tanpa jeda dari layar ponsel Irsyad Fauzi. Di sudut rumahnya di Cimahi, tumpukan pigura custom tersusun rapi, sebagian telah dibungkus, sebagian lain masih menunggu sentuhan akhir. Dari ruang sederhana itulah, satu per satu pesanan dilayani, menghubungkan kerajinan tangannya dengan pelanggan di berbagai kota.
Usaha yang ia rintis sejak masa kuliah bersama istrinya itu kini dikenal sebagai Siscraft, brand custom gift yang pelanggannya tersebar di berbagai kota. Dari sekadar menerima pesanan lewat direct message Instagram, kini ia mengandalkan marketplace sebagai tulang punggung bisnisnya. Di sana, ia menemukan lonjakan yang dulu terasa mustahil. Dulu, sebelum masuk marketplace, pesanan hanya belasan dalam sehari. Tapi semuanya berubah begitu ia memutuskan membuka toko digital.
“Biasa dulu sebelum (menggunakan) marketplace, paling orderan sehari (hanya) 10, (sementara) langsung marketplace itu di awal-awal bisa di atas 50 (pesanan dalam sehari),” ungkap Irsyad saat dihubungi detikX. Dulu ia pernah berjualan di marketplace Bukalapak, namun belakangan Irsyad dan istrinya lebih fokus membangun jejaring klien online di Tokopedia dan Shopee















