Listrik hidup siang maupun malam hari, halusin bumbu pakai blender sampai jualan online di media sosial bisa warga Desa Muara Enggelam, rasakan setelah gunakan energi bersumber matahari. Para perempuan desa melihat peluang ketersediaan energi ini dengan menciptakan berbagai sumber ekonomi keluarga.Sebelum pakai energi surya, warga pernah gunakan genset. Pemerintah kabupaten sempat memberikan bantuan genset yang dikelola empat rukun tetangga. Warga iuran Rp10.000 per hari atau Rp300.000 per bulan. Genset hanya menyala pukul 6.00 sore-6.00 pagi. Namun mesin itu kerap mogok. Suara mesin genset yang berisik dan asap hitam pekat yang mengepul memang menjadi masalah.Bagi warga, energi matahari bukan sekadar cahaya. Sinarnya menjelma menjadi kehidupan baru. Warga terutama para perempuan mulai buka usaha setelah ada energi matahari ini. Transisi energi ini menghadirkan stabilitas listrik.Meski begitu, jalan menuju kemandirian energi bukan tanpa tantangan. PLTS kerap menghadapi masalah klasik seperti pemeliharaan lemah, ketergantungan pada teknisi luar, hingga keterbatasan daya. Desa Muara Enggelam pun pernah merasakan itu. Perlahan, seiring waktu, masyarakat mulai belajar mandiri.

Listrik hidup siang maupun malam hari, halusin bumbu pakai blender sampai jualan online di media sosial bisa warga Desa Muara Enggelam, rasakan setelah gunakan energi bersumber matahari. Para perempuan desa melihat peluang ketersediaan energi ini dengan menciptakan berbagai sumber ekonomi keluarga.