DUNIA kembali menyaksikan lahirnya sebuah proyek geopolitik besar yang diklaim sebagai jalan menuju perdamaian Timur Tengah.

Pemerintahan Donald Trump pada periode keduanya mendorong gagasan yang disebut Abraham Accords Plus, sebuah perluasan dari Abraham Accords 2020 yang bertujuan mendorong normalisasi hubungan antara Israel dan lebih banyak negara Muslim, sekaligus menjadi bagian dari strategi penyelesaian konflik dengan Iran.Di atas kertas, gagasan ini terdengar menjanjikan. Siapa yang menolak perdamaian?

Siapa yang tidak menginginkan stabilitas kawasan yang selama puluhan tahun menjadi sumber konflik global?

Namun sejarah mengajarkan satu pelajaran penting. Tidak semua yang diberi label perdamaian benar-benar membawa damai.

Tidak semua kesepakatan yang ditandatangani para elite politik otomatis mencerminkan kehendak rakyat.