Jakarta - Kesepakatannya dibuat ringkas, nyaris tak sampai dua halaman. Isinya cenderung mengambang: sebuah deklarasi niat baik seputar perdamaian, ruang dialog, serta kerja sama di bidang sains, seni, medis, dan perdagangan. Tidak ada rincian aksi yang konkret dalam dokumen yang dikenal luas sebagai Abraham Accords itu. Mengambil nama rasul yang diyakini oleh umat Kristen, Yahudi, dan Islam, perjanjian damai itu merupakan warisan periode pertama kepresidenan Donald Trump. Targetnya ambisius: menormalisasi hubungan luar negeri antara Israel, Amerika Serikat, dan negara-negara Muslim, terutama di Arab.Kini, Trump kembali menabuh genderang. Dia secara terbuka mendesak negara-negara lain di Timur Tengah untuk ikut merapatkan barisan dalam gerbong Abraham Accords. Manuver ini menggelinding tepat di tengah krusialnya negosiasi yang sedang berjalan demi menyudahi perang Iran. Melalui takarir di platform miliknya, Truth Social, Trump tanpa ragu menyodorkan sederet nama mitra potensial baru: Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, dan Yordania.Ancang-ancang "koalisi global"?Trump tak menampik adanya keraguan dari beberapa negara. Namun, dia buru-buru menegaskan bahwa "sebagian besar mereka seharusnya siap dan bersedia" demi mengesahkan kesepakatan dengan Iran sebagai sebuah "peristiwa yang jauh lebih historis." Dalam kalkulasi Trump, Arab Saudi dan Qatar mutlak harus bergerak gesit. Bagi yang enggan bergabung, Trump memberi label hitam sebagai negara yang "berniat buruk", dan sebabnya bakal didepak dari kesepakatan di masa depan.
Trump Tekan Negara Arab demi Perluas Perjanjian Abraham
Presiden AS Donald Trump giat mengkampanyekan ekspansi Abraham Accords, dan mendesak negara-negara muslim agar berdamai dengan Israel.











