KEPERGIAN Presiden Prabowo Subianto ke Perancis kembali memantik perdebatan publik. Di tahun 2026 yang baru berjalan enam bulan, Presiden Prabowo sudah tiga kali berkunjung ke Perancis.
Masyarakat mengkritisi frekuensi perjalanan luar negeri Presiden Prabowo yang dianggap cukup tinggi di tengah situasi ekonomi yang sedang menghadapi berbagai tekanan.
Perdebatan mengenai perjalanan presiden sesungguhnya mencerminkan pertanyaan publik terhadap kemampuan negara membaca situasi dan mengelola masa depan ekonomi nasional.Pertanyaan tersebut muncul di tengah meningkatnya kecemasan sebagian masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional.
Nilai tukar rupiah terus mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat. Kelas menengah mulai mengeluhkan daya beli yang menurun. Dunia usaha menghadapi ketidakpastian global.
Di saat yang sama, pemerintah menjalankan berbagai program ambisius yang membutuhkan pembiayaan besar.














