JAKARTA, KOMPAS.com - Pagi itu di Dili belum benar-benar ramai ketika sebuah mobil berhenti di rumah Panglima Komando Pelaksanaan Operasi TNI Timor Timur, Brigjen Theo Syafei pada 20 November 1992.
Di kursi tamu rumah itu, seorang pria kurus bertelanjang dada dan bercelana pendek duduk lemas tanpa banyak bicara.Rambut dan janggutnya tidak lagi seperti foto-foto buram yang selama bertahun-tahun beredar di kalangan militer Indonesia.
Pria itu adalah eks pemimpin Frente Revolucionária do Timor-Leste Independente (Fretilin), Xanana Gusmao.
Beberapa jam sebelumnya, pria yang kini menjabat sebagai Perdana Menteri Timor Leste itu baru saja ditangkap hidup-hidup oleh Satgas Nanggala X/Timor Timur dari Kopassus di bawah komando Letkol Mahidin Simbolon, yang kini menyandang pangkat purnawirawan mayor jenderal.
Baca juga: “Double Agent” di Balik Operasi Senyap Penangkapan Xanana Gusmao











