JAKARTA, KOMPAS.com - Fajar baru saja menyingsing di Dili pada 20 November 1992, ketika riuh suara angsa dan salak anjing memecah kesunyian sebuah rumah persembunyian.
Jam belum benar-benar menunjukkan pukul lima. Jalanan masih lengang.Sejumlah pria berpakaian preman bergerak pelan mengelilingi rumah itu.
Tidak ada atribut tentara. Tidak ada suara komando keras.
Yang terdengar hanya langkah kaki tergesa dan napas yang ditahan.
Baca juga: SBY Kenang Saat Amankan Kunjungan Wapres Umar dan Karlinah di Timor Timur









