PADA 15 Mei lalu, dalam sidang di Mahkamah Agung India, Ketua Mahkamah Agung Surya Kant menyebut pemuda pengangguran sebagai “kecoak.”
Pernyataan itu keluar dalam konteks persidangan soal ijazah palsu di lingkungan profesi hukum. Kant kemudian mengklarifikasi bahwa maksudnya bukan menghina generasi muda secara keseluruhan.
Namun, klarifikasi jarang betul-betul menghapus luka. Yang tersisa di telinga jutaan anak muda India justru konfirmasi atas apa yang lama mereka rasakan, bahwa negara memandang mereka bukan sebagai warga yang diurus, melainkan masalah yang dikelola.Respons yang muncul tidak datang dalam bentuk demonstrasi jalanan. Ia datang dalam bentuk tawa: tawa pahit yang berorganisasi.
Abhijeet Dipke, mahasiswa hubungan masyarakat dari Boston University, mendirikan Cockroach Janta Party (CJP), nama yang dengan sengaja memelesetkan BJP, partai berkuasa Modi.
Dalam tiga hari, gerakan itu meraup lebih dari 350.000 anggota dan dua puluh juta lebih pengikut di Instagram, melesat drastis melampaui akun resmi pemerintah India.










