KOMPAS.com - Amerika Serikat telah mendakwa mantan presiden Kuba berusia 94 tahun, Raúl Castro, dengan tuduhan pembunuhan. Hal ini memicu spekulasi bahwa Havana bisa menjadi target perubahan rezim oleh Washington DC.
Di tengah berbagai tekanan yang menyebabkan krisis bahan bakar dan energi paling signifikan di Kuba, sejumlah pejabat AS secara konsisten menyerukan agar pemerintahan komunis di pulau itu, yang telah berlangsung selama 66 tahun, segera diakhiri.Pada satu sisi, Presiden Donald Trump mengatakan dirinya meyakini bahwa "eskalasi" tidak diperlukan. Namun, di sisi lain, Gedung Putih berikrar tidak akan menoleransi sebuah "negara pelanggar" yang hanya berjarak 144 km dari pantai AS.
Apa yang terjadi selanjutnya sulit diprediksi: keruntuhan ekonomi, gejolak domestik, atau intervensi militer AS.
Berikut tiga kemungkinan yang dapat terjadi:
Baca juga: AS Dakwa Eks Presiden Kuba Raul Castro, Sinyal Gulingkan Rezim?












