DALAM beberapa pekan terakhir, media sosial Indonesia dipenuhi oleh euforia suporter sepak bola.
Pendukung Arsenal F.C. memastikan klubnya menjuarai Liga Inggris di depan mata setelah Manchester City berhasil ditahan imbang oleh Bournemouth, sementara bobotoh mulai membicarakan kemungkinan Persib Bandung menorehkan sejarah baru di kompetisi domestik serta jalur konvoi perayaan juara di Kota Bandung.Percakapan tentang sepak bola muncul di mana-mana, warung kopi, kantor, kampus, hingga grup WhatsApp keluarga.
Sulit rasanya mencari olahraga lain di Indonesia yang mampu menciptakan keterlibatan sosial sebesar itu.
Namun di tengah gairah yang begitu besar, ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar dibahas, mengapa sepak bola Indonesia belum berhasil menjadi kekuatan ekonomi?
Perdebatan tentang komersialisasi sepak bola sebenarnya sudah lama muncul, para suporter menganggap sepak bola modern terlalu korporatis.















