Penulis: Nik Martin/DW Indonesia
BEIJING, KOMPAS.com - Sempat tercetus sebuah frasa "Rusia mungkin merayakan kemitraan ‘tanpa batas' dengan China,” dalam pertemuan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Xi Jinping, tepat sebelum meletusnya perang Ukraina pada Februari 2022. Namun kini nampaknya hubungan ‘tanpa batas' tersebut berjalan satu arah.Meskipun perdagangan bilateral kedua negara melemah tahun lalu akibat merosotnya harga minyak, ekspor Rusia ke China dilaporkan meningkat hampir dua kali lipat sejak Februari 2022, di saat Moskwa menggencarkan invasi atas Ukraina.Pada tahun 2024, total ekspor Rusia ke China mencapai 129 miliar dollar AS (Rp 2.050 triliun). Sebagian besar ekspor tersebut berupa minyak mentah, batu bara, dan gas alam yang dijual dengan harga yang jauh lebih murah.
Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih menghitung bahwa China telah membeli lebih dari 372 miliar dollar AS (Rp 5.700 triliun) bahan bakar fosil Rusia sejak konflik dimulai.
Transaksi tersebut memberikan stabilitas mata uang bagi Moskwa untuk mendanai perang di tengah gempuran sanksi Barat.
Baca juga: Beijing Tepis Klaim Kapal China Dihantam Drone Rusia












