PERTEMUAN puncak antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump di Beijing pada 14-15 Mei 2026 lalu, menyisakan gema retoris yang jauh lebih berat daripada sekadar kesepakatan dagang atau pembelian jet Boeing.
Di bawah bayang-bayang pilar megah Great Hall of the People, Xi Jinping melontarkan pertanyaan yang menusuk jantung tatanan global, "Bisakah Tiongkok dan Amerika Serikat mengatasi Perangkap Thucydides dan menciptakan paradigma baru dalam hubungan antar-negara besar?"
Pertanyaan ini tentu bukan hanya bunga rampai diplomasi, tapi undangan, sekaligus peringatan, bagi Washington untuk meredefinisi hakikat persaingan di abad ke-21.Konteks pertemuan tersebut sangatlah krusial. Dunia di tahun ini memang sedang berada dalam kondisi "sakit kepala" geopolitik yang akut.
Perang di Iran telah melumpuhkan Selat Hormuz, memicu lonjakan harga energi yang mengancam pemulihan ekonomi global.
Di sisi lain, perang semikonduktor mencapai titik didih dengan pembatasan ekspor chip canggih oleh Amerika Serikat dan retaliasi mineral kritis oleh China.













