JAKARTA, KOMPAS.com - Saat rupiah melemah seperti akhir-akhir ini, tidak sedikit masyarakat melakukan sejumlah kesalahan finansial demi menjaga nilai asetnya. Sejumlah ekonom dan perencana keuangan menilai, gejolak kurs justru sering memicu keputusan finansial yang emosional dan berisiko. Mulai dari memborong dolar saat kurs tinggi hingga memakai dana darurat untuk berspekulasi. Berikut sejumlah kesalahan finansial yang kerap dilakukan masyarakat saat rupiah melemah: 1. Panik menukar tabungan ke dollar AS Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan kesalahan paling umum dilakukan saat rupiah melemah adalah panik mengubah seluruh simpanan rupiah menjadi dollar AS ketika kurs sudah tinggi. Padahal kepemilikan dollar AS seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan. Jika seluruh penghasilan dan pengeluaran masih dalam rupiah, membeli terlalu banyak dolar justru berisiko menjadi spekulasi.

"Jika semua penghasilan dan pengeluaran dalam rupiah, memiliki terlalu banyak dolar justru bisa menjadi spekulasi yang berisiko," ujarnya kepada Kompas.com, Jumat. Lagi pula, untuk kondisi saat ini menyimpan uang di bank juga dinilai masih aman selama bank yang dipilih diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan simpanan memenuhi ketentuan penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Selain itu, data OJK menunjukkan perbankan masih memiliki likuiditas yang memadai, dana pihak ketiga pada Maret 2026 masih tumbuh 13,55 persen menjadi Rp 10.231 triliun, kredit tumbuh 9,4 persen menjadi Rp 8.659 triliun, dan rasio alat likuid terhadap DPK berada di 27,85 persen atau jauh di atas ambang 10 persen. Baca juga: Soal Rupiah Melemah, Presiden Prabowo: Orang Desa Tidak Pakai Dollar Kok... 2. Membongkar dana darurat demi beli dollar AS Selain itu, Josua menyebut, kesalahan lainnya yang kerap dilakukan ketika rupiah melemah adalah menggunakan dana darurat untuk membeli aset berisiko dam berutang untuk membeli valuta asing (valas). Bahkan ada juga yang sampai melakukan penundaan pembayaran cicilan karena berharap kurs membaik, membeli dollar AS tanpa tujuan yang jelas, hingga tidak mengecek jenis bunga kredit. Josua mengingatkan, risiko terbesar ketika rupiah melemah bukan hanya kurs namun juga arus kas bulanan. Selama pendapatan masih dalam denominasi rupiah, maka prioritas utama dalam kondisi ini berupa menjaga dana darurat, membayar cicilan tepat waktu, mengurangi utang konsumtif, dan menunda belanja besar yang tidak mendesak. "Dana darurat dan kebutuhan 3 sampai 6 bulan tetap sebaiknya disimpan dalam rupiah di rekening tabungan atau deposito karena pengeluaran sehari-hari mayoritas tetap rupiah," ucapnya. Senada, Perencana keuangan dari Finansialku Melvin Mumpuni mengatakan banyak masyarakat menggunakan dana darurat untuk membeli dollar AS atau aset lain karena takut tertinggal momentum. Padahal, dana darurat seharusnya diprioritaskan untuk kebutuhan mendesak, bukan dipakai untuk spekulasi saat pasar bergejolak. "Ada tiga kesalahan utama yang sering saya jumpai. Salah satunya, membongkar dana darurat," ucapnya kepada Kompas.com, Jumat.