Jakarta -

Abdullah al-Muhaysini kini tidak lagi perlu khawatir terhadap sanksi Amerika Serikat (AS).Pada akhir Agustus 2026, Departemen Keuangan AS menghapus nama mantan jihadis itu dari Specially Designated Nationals and Blocked Persons List (SDN List). Daftar ini berisi individu dan organisasi yang asetnya dibekukan di AS dan tidak boleh melakukan bisnis dengan warga negara AS.Setelah perang saudara Suriah pecah pada 2011, al-Muhaysini aktif merekrut anggota dan membantu membentuk struktur pemerintahan yang dikuasai Front Nusra, cabang al-Qaeda di Suriah saat itu.

Penghapusan namanya terkait dengan kebijakan baru pemerintah AS terhadap Suriah. Washington juga menghapus Front Nusra dan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) dari SDN List.Dua puluh lima tahun setelah serangan 11 September, situasi ini menunjukkan gambaran yang menarik. Al-Qaeda, yang dalam bahasa Arab berarti basis atau fondasi, tidak menghilang, tetapi juga tidak lagi sama seperti dulu. Para pengamat sepakat bahwa inti organisasinya telah melemah, sementara cabang-cabang regionalnya tetap kuat di beberapa wilayah Afrika dan Asia.Cabang regional di Sahel, Yaman, dan AfganistanSaat ini al-Qaeda makin jarang beroperasi dengan menggunakan namanya sendiri."Hal ini sebagian besar disebabkan oleh keberhasilan upaya kontra-terorisme setelah tahun 2001," kata Lars Berger, profesor studi terorisme di Universitas Federal Ilmu Administrasi Jerman.Menurut Berger, operasi militer di Afganistan, ditambah kerja sama antara badan intelijen dan kepolisian, telah secara signifikan melemahkan kelompok tersebut."Dari sudut pandang ini, serangan 11 September merupakan kegagalan strategis besar bagi al-Qaeda," ujarnya.Harapan al-Qaeda untuk mendorong radikalisasi dunia Arab dan menggulingkan rezim-rezim yang berkuasa tidak pernah terwujud. Sekitar sepuluh tahun setelah serangan di New York dan Washington, tokoh al-Qaeda yang paling terkenal, Osama bin Laden, tewas pada Mei 2011. Akibatnya, al-Qaeda melakukan reorganisasi."Milisi ini mencari wilayah-wilayah tempat mereka bisa membangun pijakan yang permanen, misalnya di beberapa bagian Afrika atau di Yaman," kata Berger. Menurutnya, negara-negara dengan struktur pemerintahan yang lemah, aparat keamanan yang kewalahan, dan konflik lokal yang belum terselesaikan merupakan lingkungan yang sangat menguntungkan bagi kelompok tersebut."Sekarang, kondisi seperti itu terutama terlihat di Afrika," kata Rüdiger Lohlker, profesor emeritus kajian Islam di Universitas Wina.Menurutnya, di kawasan Sahel, kelompok Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) telah berkembang menjadi afiliasi al-Qaeda yang sangat kuat.Analisis dari lembaga pemikir Critical Threats Project menggunakan Niger sebagai contoh untuk menunjukkan bagaimana JNIM dan Provinsi Sahel Negara Islam (ISSP) bersaing memperebutkan wilayah, anggota, dan sumber daya. Pada Juni 2026, JNIM mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap bandara internasional di ibu kota Niger, Niamey.Di Somalia, kelompok al-Shabaab, yang memiliki hubungan dekat dengan al-Qaeda, masih memiliki pengaruh yang sangat kuat. Di Yaman, al-Qaeda hadir melalui Al-Qaeda in the Arabian Peninsula (AQAP). Sementara itu, Afganistan juga tetap menjadi tempat berlindung yang aman bagi organisasi tersebut.Namun, menurut Lohlker, keberhasilan cabang-cabang ini tidak dapat dijelaskan hanya melalui ideologi jihadis. Sebaliknya, keberhasilan kelompok-kelompok ini tidak hanya didorong oleh ideologi, tetapi juga keuntungan ekonomi. Penculikan, penyelundupan, dan penjarahan telah lama menjadi sumber pendanaan yang membantu mempertahankan aktivitas terorisme.Ia juga mengatakan bahwa terdapat apa yang bisa disebut sebagai "pasar kekerasan." Di tempat-tempat di mana kekerasan dapat menghasilkan uang, organisasi jihadis lebih mudah merekrut anggota baru dan mempertahankan para pengikutnya."Kita perlu meninggalkan cara pandang yang terlalu berpusat pada Eropa," tambah Lohlker.Menurutnya, al-Qaeda dan kelompok jihadis lainnya selama ini jauh lebih aktif di luar Eropa dan Amerika Serikat daripada yang terlihat dari perspektif Barat.Keterlibatan al-Qaeda di tingkat regionalSeiring waktu, cabang-cabang Al-Qaeda mengubah cara mereka bergerak. Menurut Lars Berger, mereka tidak lagi fokus menyerang negara-negara Barat sebagai "musuh jauh", tetapi lebih berupaya membangun pengaruh dan memperkuat posisi mereka di masyarakat setempat."Kita sekarang melihat upaya untuk bergerak dengan cara yang berbeda dan bertahap. Alih-alih melakukan aksi kekerasan spektakuler yang diperintahkan dari pucuk pimpinan, mereka lebih banyak melakukan tindakan berskala kecil yang berakar pada masyarakat setempat," katanya.Di kawasan Sahel, strategi ini mencakup pembentukan aliansi lokal, memperluas pengaruh dalam komunitas, dan menguasai wilayah tertentu. Critical Threats Project menyebut perkembangan ini sebagai "lokalisasi."Dengan cara inilah al-Qaeda mampu bertahan. JNIM memanfaatkan konflik etnis dan sosial di Sahel, sementara al-Shabaab mengeksploitasi konflik dalam struktur klan di Somalia. Tujuan jihad global tetap dipertahankan sebagai kerangka ideologis, tetapi pertempuran nyata berlangsung di tingkat lokal.Al-Qaeda bersaing dengan ISISNamun dalam perebutan perhatian publik, al-Qaeda harus menghadapi pesaing yang lebih kuat, yaitu kelompok yang menyebut dirinya "Negara Islam" (ISIS)."Pada akhirnya, generasi jihadis yang lebih muda cenderung lebih tertarik kepada Negara Islam," kata pakar terorisme Behnam Heidenreuter-Said, Kepala Pusat Penelitian Strategic Police Research di Akademi Kepolisian Hamburg.Menurutnya, ISIS telah melakukan serangan teroris yang lebih spektakuler dan lebih menarik perhatian media. Sebaliknya, al-Qaeda mengambil pendekatan yang lebih berorientasi jangka panjang.Heidenreuter-Said, yang menerbitkan sejarah komprehensif al-Qaeda pada 2018, mengatakan bahwa ISIS ingin menciptakan dampak besar dan menunjukkan keberhasilan secepat mungkin agar bisa berkembang secara eksplosif.Namun, ekspansi ISIS kemudian diikuti oleh kemunduran dan keruntuhannya. Sementara itu, al-Qaeda tetap bertahan, meskipun dalam kondisi dan bentuk yang berbeda dari sebelumnya.Kurangnya informasi terbaru tentang al-QaedaKini al-Qaeda menghadapi pertanyaan penting, apakah mereka mampu menggantikan para anggotanya yang makin menua?Menurut Heidenreuter-Said, hal itu mungkin saja terjadi, tetapi sebagai sebuah merek, nama al-Qaeda makin kehilangan pengaruh. Khususnya di Eropa, jihadisme militan jadi makin kurang menarik. Namun, ideologi jihadis tidak hilang. Yang berubah adalah al-Qaeda tidak lagi memiliki kemampuan seperti dulu untuk memobilisasi sejumlah besar anak muda.Menurutnya, sulit untuk menilai seberapa berbahaya organisasi ini saat ini."Semua pihak sepakat bahwa saat ini hampir tidak ada informasi mengenai al-Qaeda, dan kita benar-benar tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan," katanya.Ia juga menyoroti bahwa sejak serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, al-Qaeda hampir tidak terlihat dalam konflik-konflik besar di kawasan tersebut.Menurut pandangannya, Hamas, Hizbullah, Houthi, dan Iran justru lebih mendominasi panggung politik dan militer regional dalam beberapa tahun terakhir.Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa JermanDiadaptasi oleh Hani AnggrainiEditor: Adelia Dinda SaniSimak juga Video 'Produknya Diboikot, Israel Tutup Konsulat Inggris di Yerusalem Timur':