Baca dalam bahasa InggrisAngelica Felincia sudah bermimpi untuk kuliah di Australia sejak SMA."Sepertinya kebudayaan di Australia itu seru banget, dan saya juga mauexplore, keluar dari Indonesia itu seperti apa," katanya kepada Natasya Salim dari ABC Indonesia.
"Saya ingin melihat juga perbedaan budayanya dan saya merasa kalau di Australia banyak tempat yang indah."Berbekal keinginan ini, Angelica mengaku sudah menyiapkan dokumen identitas, bukti keuangan, dan terjemahannya sejak jauh-jauh hari.Tapi, mimpinya untuk studi di bidang pendidikan anak usia dini atau early education di Melbourne kandas, karena aplikasi visa pelajarnya ditolak dalam sehari."Saya pastinya kecewa banget," ujarnya."Kalau dari surat penolakannya katanya di Genuine Student statement saya belum ada alasan cukup kuat untuk studi di Australia."[Datawrapper]Data Departemen Dalam Negeri Australia menunjukkan penolakan permohonan visa pelajar mencapai tingkat tertinggi dalam 10 tahun terakhir, dengan tingkat penolakan meningkat dari 7,9 persen pada Juni 2016 menjadi 24,2 persen pada Juni 2026.Lebih dari 51 persen permohonan visa pelajar dari Nepal ditolak pada tahun keuangan 2025-2026, sementara India mengalami penolakan lebih dari 40 persen.China mencatat tingkat penolakan sebesar 5,8 persen dalam periode yang sama.Pelamar asal Nepal, Asif Rahim, mengajukan permohonan visa pelajar pada bulan Maret untuk melanjutkan S2 Akuntansi di Melbourne.Namun permohonannya ditolak sebulan kemudian.Ia mengatakan "penolakan besar-besaran" juga dialami teman-temannya yang mendaftar dari Nepal pada waktu yang sama.Asif mengatakan pihak departemen tidak puas dengan proposal studinya."Saya sangat kecewa dengan penolakan ini karena saya telah menghabiskan 15 hingga 16 bulan untuk mempersiapkan semuanya," katanya."Saya merasa sangat terpukul."Juru bicara departemen tersebut mengatakan pihaknya tidak menilai aplikasi berdasarkan kewarganegaraan.[Datawrapper]Penolakan aplikasi bagi pelamar asal Indonesia untuk tahun keuangan 2025-26 berada di angka 18,5 persen.Abraham Syebat, yang ingin melanjutkan pendidikan di bidang Manajemen Dapur dan Perhotelan di Melbourne, mengatakan visanya ditolak akhir Juli lalu.Ia mengatakan aplikasinya ditolak karena pemerintah Australia tidak yakin ia akan pulang ke Indonesia.Padahal Abraham mengatakan di permohonan visa ia sudah menjelaskan rencananya untuk menimba ilmu dari industri kuliner di Australia, sebagai bekal membuka bisnis di Bali."Saya merasa jawabannya [penolakan] cuma template," katanya.Ia mengatakan memutuskan untuk melanjutkan studinya di Indonesia, karena pengajuan aplikasi visa baru akan memakan biaya.Alasan penolakan 'copy-paste'Penolakan visa ini tercatat ketika mahasiswa internasional menjadi topik perbincangan hangat di tengah wacana penurunan angka imigrasi di Australia.Minggu lalu, pemerintah Australia menutup kursus Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan dengan kekhawatiran mahasiswa internasional memanfaatkan visa pelajar untuk memperlama tinggal mereka di Australia, bukan untuk studi.Untuk mendapatkan visa pelajar, situs web Departemen Dalam Negeri Australia mengatakan pelamar harus menyiapkan persyaratan 'Genuine Student' (GS), yang merinci "niat pelajar untuk benar-benar belajar di Australia."Namun, beberapa agen migrasi mempertanyakan bagaimana pemeriksa visa mengecek aplikasi berdasarkan kriteria GS.Umar Ashraf, agen migrasi Magpie Consultants, mengatakan ia memahami pemerintah akan menolak visa jika ada jeda waktu dalam studi, ketidaksesuaian jalur karier, atau niat untuk tinggal lebih lama di Australia menggunakan visa pelajar.Namun, ia tidak memahami banyaknya penolakan aplikasi visa pelajar dari luar Australia."Sekitar 60 hingga 70 persen dari penolakan tersebut, menurut saya, departemen hanya menolaknya begitu saja," katanya."Ada orang-orang yang sungguh-sungguh tapi mendapatkan penolakan, tetapi kami tidak dapat berbuat banyak."Phu Vu Minh, agen migrasi di VisaEnvoy, mengatakan departemen dalam negeri Australia memberikan alasan yang "tidak masuk akal" dalam surat penolakan yang menurutnya seringkali "tidak jelas.""Ini seperti copy-paste dari satu ke yang lain," katanya."Ini tidak menunjukkan bahwa petugas dengan cermat menilai semua bukti yang diajukan bersama dengan permohonan."ABC sudah melihat beberapa surat penolakan visa pelajar, dan menemukan paragraf yang hampir identik, penggantian kata, dan kalimat yang diparafrasekan ketika menguraikan mengapa poin penilaian dalam dokumen pemohon tidak diterima."Penggunaan bahasa dengan standar sama dalam surat keputusan diberlakukan untuk memastikan keputusan kami konsisten, memiliki landasan hukum yang kuat, serta menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dalam program visa dengan volume besar," ujar juru bicara Departemen Dalam Negeri Australia.Phu mengatakan meskipun para pelamar mengumpulkan dokumen setebal 15 halaman untuk menjawab poin-poin yang dibutuhkan, penilaian GS "sangat subjektif tergantung petugas imigrasi"."Anda mungkin mendapatkan persetujuan dari satu petugas imigrasi, tetapi dengan kasus [atau aplikasi] yang sama, Anda mungkin ditolak oleh petugas imigrasi lain," katanya.Chris Johnston dari Work Visa Lawyers mengatakan ia mencatat permintaan banding dari pelamar visa pelajar di dalam Australia naik lima kali lipat dalam beberapa bulan terakhir.Menurutnya, "pola yang sangat umum" yang ia temukan dalam surat penolakan untuk pelamar dari luar Australia, yang tidak dapat mengajukan banding, "mengkhawatirkan.""Ketika pelamar sudah mengeluarkan biaya dan menyiapkan semuanya bukti harus dipertimbangkan berdasarkan kebenarannya," katanya, yang menambahkan pelamar harus membayar hingga AU$2.500 untuk mengajukan permohonan."Tidak adil jika mereka [pemerintah] hanya menolak [visa] karena mereka tidak ingin orang datang ke Australia."Departemen Dalam Negeri Australia mengatakan pihaknya menerapkan berbagai langkah untuk "memperkuat integritas dan kualitas sektor pendidikan internasional dan program visa pelajar."Juru bicara departemen tersebut mengatakan penolakan visa ini berarti ada "pengawasan yang lebih ketat terhadap permohonan [visa] dan tingkat penolakan yang lebih tinggi untuk aplikasi yang tidak memenuhi persyaratan visa.""Permohonan visa pelajar dinilai berdasarkan kelayakan masing-masing sesuai dengan persyaratan undang-undang migrasi Australia," katanya.'Sasaran empuk'Ly Tran, profesor pendidikan di Deakin University, mengatakan ia melihat adanya "kebutuhan untuk menindak penyedia layanan pendidikan berkualitas rendah, pergantian jurusan, dan penyalahgunaan visa pelajar di Australia."Namun, ia mengaku "was-was terhadap cara penindakan dalam skala yang luas"."Kita perlu membedakan antara lembaga yang bermasalah, program studi yang bermasalah, dan mahasiswa individual," katanya."Tindakan pembatasan yang berulang juga berisiko menimbulkan kesan bahwa Australia kurang ramah kepada mahasiswa internasional."Ia mengatakan mahasiswa internasional menjadi "sasaran empuk" karena kelompok tersebut merupakan salah satu komponen terbesar dari migrasi sementara."Kekhawatiran saya yang lebih besar adalah mahasiswa internasional semakin diperlakukan sebagai objek politik melebihi sebagai mahasiswa dan anggota komunitas pendidikan kita," katanya.Luke Sheehy, CEO Universities Australia, mengatakan pemrosesan visa pelajar saat ini memiliki "dampak buruk" pada universitas."[Ini] sangat menghancurkan, terutama bagi universitas-universitas regional kita dan beberapa universitas kita di daerah koridor pertumbuhan negara kami," katanya."Butuh waktu bertahun-tahun untuk berinteraksi dengan mahasiswa, pergi ke negara mereka, berbicara dengan mereka sehingga mereka dapat datang ke Australia dan belajar di lembaga pendidikan kelas dunia kami."Menurut Weihong Liang, Presiden International Students Representative Council (ISRC) Australia, mahasiswa internasional berada di "posisi yang sangat sulit.""Di dalam negeri [Australia], muncul banyak diskusi tentang bagaimana mereka [mahasiswa internasional] harus berhenti datang ke sini," ujarnya."Tapi di saat yang bersamaan, banyak orang di luar [Australia] berusaha merekrut dan menarik mahasiswa untuk datang."Ketika mereka sampai di Australia, mereka akan merasa seperti ditipu."Departemen Dalam Negeri Australia mengatakan "program visa pelajar yang kuat dan tepercaya mendukung para pelajar, penyedia layanan pendidikan, dan masyarakat di seluruh Australia, termasuk di wilayah regional.""Serta membantu menjaga reputasi Australia sebagai destinasi pendidikan berkelas dunia."Tonton juga video "Dari Australia Awards-Working Holiday Visa, Ini Penjelasan Wamenlu Aussie"






