Jakarta -

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diduga merancang untuk menunda pemilu Israel akhir tahun ini dengan memantik eskalasi di Jalur Gaza. Usut punya usut, perolehan partai Netanyahu ternyata tertinggal dalam jajak pendapat terbaru yang dilakukan di Israel.Dilansir The Times of Israel, Selasa (25/8/2026), Channel 12, stasiun televisi utama di Israel mengeluarkan hasil survei terbaru terkait pemilu Israel. Jajak pendapat yang dilakukan pada Jumat (20/8) itu memperlihatkan posisi Partai Likud yang dipimpin Netanyahu meraih peringkat kedua. Partai tersebut diprediksi mendapatkan 21 kursi.Dalam survei itu, Partai Yashar yang didirikan oleh mantan Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel, Gadi Eisenkot, berada di peringkat pertama. Partai yang baru terbentuk pada September tahun lalu ini diprediksi meraih 24 kursi.

Survei Channel 12 ini juga mengungkap peluang Netanyahu menang dalam pemilihan Perdana Menteri Israel. Survei tersebut memuat 44 persen pemilih memilih Eisenkot sebagai Perdana Menteri dibandingkan Netanyahu yang hanya meraih 34 persen suara. Namun sebagai catatan, jabatan Perdana Menteri di Israel tidak dipilih langsung oleh rakyat. Warga hanya memilih partai politik untuk duduk di parlemen, lalu Presiden akan menunjuk pemimpin partai yang paling mampu membentuk koalisi mayoritas untuk menjabat sebagai Perdana Menteri.Netanyahu Minta Warga Israel Tak Pilih Partai KecilDalam unggahan di Instagram-nya, Netanyahu pada Senin (24/8) menyerukan agar warga Israel tidak mendukung partai-partai sayap kanan kecil yang kemungkinan gagal memenuhi ambang batas electoral 3,25 persen dalam pemilu yang digelar 27 Oktober mendatang. Netanyahu memperingatkan pilihan mendukung partai kecil bisa menghancurkan peluang koalisi pemerintah saat ini."Pemilu ini akan ditentukan oleh setiap suara. Jangan sia-siakan suara Anda pada partai-partai kecil yang mungkin tidak lolos ambang batas dan justru membawa kubu kiri berkuasa. Jangan buang-buang suara. Pertahankan kubu kanan. Pilihlah Likud," kata Netanyahu.Video tersebut diunggah di akun Instagram Netanyahu sehari sebelum mantan jenderal IDF berhaluan keras, Ofer Winter, dijadwalkan meluncurkan partai baru. Berdasarkan hasil jajak pendapat, partai baru ini berpotensi menarik banyak suara dari kalangan sayap kanan jauh, sehingga melemahkan partai-partai yang saat ini membentuk koalisi pemerintahan.Dalam video tersebut, Netanyahu berargumen bahwa pemilihan umum tahun 1992 membuktikan bahwa memberikan suara kepada partai-partai sayap kanan yang lebih kecil adalah sebuah kesalahan. Saat itu, blok yang dipimpin oleh tokoh Partai Buruh, Yitzhak Rabin, meraih kemenangan telak yang kemudian berujung pada Perjanjian Damai Oslo."Kita telah membayar harganya dengan ribuan nyawa warga yang tewas dibunuh serta ribuan korban lainnya, dan kita masih menghadapi masalah ini hingga hari ini-semuanya bermula dari kesalahan itu, ketika partai-partai sayap kanan sempalan berselisih dan menjatuhkan pemerintahan sayap kanan," ujar Netanyahu."Lantas, apakah kita akan mengulangi kesalahan ini?" tanyanya.