Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menjatuhkan konsekuensi ekonomi berat terhadap negara mana pun yang memberikan "bantuan dalam bentuk apa pun" kepada Iran. Ancaman itu disampaikan ketika Washington berupaya mengakhiri perang yang pecah setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu."Setiap negara yang mengizinkan lembaga keuangan, perusahaan, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan bantuan apa pun kepada Iran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat besar," tulis Trump melalui Truth Social pada Rabu, 20 Agustus 2026. Ia menjanjikan "peperangan ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya".Donald Trump tidak merinci bentuk sanksi yang akan diterapkan maupun negara mana yang menjadi sasaran. Ancaman tersebut berpotensi menyasar negara-negara yang selama ini ikut menjadi perantara perundingan damai.

Iran: Amerika telah gagalMenteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menanggapi ancaman itu dengan menyebutnya sebagai kelanjutan dari kebijakan Amerika yang telah gagal. Menurut dia, Washington justru akan menghadapi kekalahan yang lebih besar jika terus mempertahankan pendekatan tersebut."Yang disebut 'Economic D-Day' itu adalah pengalihan perhatian dari krisis Amerika sendiri: utang yang belum pernah terjadi sebelumnya dan melonjaknya beban bunga," kata Araghchi melalui X. "Menggandakan kebijakan yang gagal hanya akan membawa kekalahan lebih lanjut dan permusuhan dari rakyat Iran." Dia juga menuding Amerika melakukan "terorisme ekonomi" yang mengancam perekonomian dunia dan kedaulatan negara-negara lain.Mencari kompromi di Selat HormuzPerang Iran-Amerika Serikat, yang melibatkan Israel, telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang pasar global. Konflik itu juga menjalar ke kawasan Teluk. Selat Hormuz—jalur vital bagi perdagangan energi dunia—menjadi salah satu titik paling rawan. Sebelum perang, sekitar seperlima minyak yang diperdagangkan di dunia melintasi selat tersebut.Kesepakatan gencatan senjata pada 8 April menghentikan serangan udara besar-besaran dari kedua pihak. Namun bentrokan sporadis terus berlangsung di sekitar Selat Hormuz. Amerika menjadikan pembukaan kembali jalur pelayaran itu sebagai prioritas, sementara Iran bersikeras selat tersebut tetap ditutup sampai Washington mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran, menghapus sanksi minyak, dan membuka kembali aset Iran yang dibekukan di luar negeri.Amerika Serikat dan Iran telah dua kali mengumumkan kesepakatan gencatan senjata, pada April dan Juni, dengan harapan lalu lintas pelayaran di Hormuz kembali normal dan konflik dapat diakhiri. Keduanya, bagaimanapun, segera runtuh. Israel sendiri sebagian besar telah menarik diri dari pertempuran.Kebal dihantam sanksi?Iran telah terbiasa menghadapi sanksi ekonomi berat selama hampir lima dekade, sejak Revolusi Islam 1979. Trump kembali menerapkan kebijakan "tekanan maksimum" setelah menjabat pada Januari 2025, menghidupkan kembali pendekatan yang ia gunakan pada periode pertama pemerintahannya.Tehran menilai sanksi tersebut gagal memaksa Iran mengubah kebijakannya. Iran, kata Araghchi, tetap terbuka terhadap dialog dengan Washington, tetapi tidak menganggap perundingan sebagai bentuk penyerahan diri.Sementara itu, Uni Emirat Arab pada Selasa (18/8) mengumumkan penghentian seluruh kegiatan perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran sampai waktu yang belum ditentukan. Keputusan itu diambil setelah Kementerian Pertahanan UEA menyatakan mendeteksi dua rudal yang diluncurkan dari Iran dan kemudian jatuh ke laut. Iran membantah laporan tersebut sebagai tidak berdasar.Langkah UEA menjadi sorotan karena negara itu merupakan tuan rumah salah satu pangkalan militer utama Amerika Serikat di kawasan.Keseimbangan geopolitikDi sisi lain, ruang gerak Washington untuk memperluas perang ekonomi terhadap Iran tidak tanpa risiko. Data perusahaan analitik Kpler menunjukkan Cina membeli lebih dari 80 persen minyak Iran yang dikapalkan sepanjang 2025. Beijing sendiri merupakan pemasok berbagai komoditas strategis bagi Amerika Serikat, termasuk mineral tanah jarang yang penting bagi industri teknologi dan pertahanan.Trump mengaku tengah mengejar tujuan yang lebih luas: mengambil persediaan uranium yang telah diperkaya tinggi milik Iran dan memaksakan kesepakatan baru yang lebih ketat untuk membatasi program energi serta riset nuklir Tehran. Amerika Serikat secara sepihak keluar dari perjanjian nuklir Iran pada 2018.Iran, yang merupakan penandatangan Traktat Non-Proliferasi Nuklir, selama puluhan tahun menyatakan bahwa program nuklirnya bertujuan damai.Di tengah saling bantah mengenai perundingan, posisi kedua pihak juga belum sepenuhnya terang. Trump mengatakan pada Selasa bahwa tidak ada pembicaraan yang berlangsung dengan Iran. Sehari sebelumnya, menantunya sekaligus utusan khususnya, Jared Kushner, justru mengatakan perundingan masih berjalan dan bahkan "mungkin lebih intens" daripada sebelumnya.Tehran, bagaimanapun, menegaskan tekanan militer dan sanksi ekonomi tidak akan mematahkan tekadnya.Artikel ini terbit pertama kali dalan bahasa InggrisDiadaptasi oleh Rizki nugrahaEditor: Yuniman FaridTonton juga video "Trump Ancam Beri Sanksi Ekonomi ke Negara yang Bantu Iran"