Artikel ini diproduksi ABC IndonesiaPara petani Australia khawatir keputusan pemerintah Australia untuk menangguhkan permohonan visa bagi anak-anak muda yang ingin bekerja sambil berlibur di Australia, akan mengurangi jumlah tenaga kerja, serta membahayakan ketahanan pangan Australia.Program Working Holiday Maker (WHM) Australia dimulai pada tahun 1975 dan dianggap saling menguntungkan bagi petani, komunitas pedesaan, sementara para backpacker luar negeri bisa berkeliling Australia sambil bekerja.

Federasi Petani Nasional (NFF) memperkirakan peserta WHV, yang sering disebut backpacker, mencakup sekitar setengah dari tenaga kerja lepas di Australia selama musim panen.Mereka mengatakan pemutusan hubungan kerja sangat mengkhawatirkan. "[Para backpacker] sangat penting bagi industri kami dan ketahanan pangan negara," kata juru bicara bidang hortikultura NFF, Richard Shannon.Pemohon dari Indonesia sempat ditangguhkanPendaftaran untuk WHV akan diproses "lebih lambat dari sebelumnya", seperti dikonfirmasi oleh Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, Minggu kemarin (16/08).Situs resmi Kementerian Dalam Negeri Australia, yang memuat perkembangan seputar WHV, menunjukkan permohonan dari 23 negara telah dihentikan sementara.Indonesia sebelumnya masuk dalam daftar yang dihentikan sementara atau "Paused", kemudian menjadi "Check Ballot Status" yang artinya permohonan visa akan melalui undian.Penangguhan permohonan visa terjadi di tengah perdebatan sengit soal masa depan kebijakan migrasi Australia.Pemimpin Oposisi Australia, Angus Taylor, belum menjamin peserta WHV akan menjadi pengecualian dalam upaya menurunkan angka migrasi yang direncanakan oleh Koalisi.Namun, pemimpin Partai Nasional Australia, Matt Canavan, sebelumnya telah berjanji partainya tidak akan mengizinkan perubahan apa pun, dengan alasan peserta WHV sangat penting bagi masyarakat pedalaman Australia.Para backpacker di masa krisisBlazeAid, adalah organisasi amal yang mengelola sukarelawan untuk membersihkan dan membangun kembali pertanian setelah kebakaran, banjir, dan siklon.Sebagian besar partisipan dalam program mereka adalah para peserta WHV."Saya hanya khawatir jika penangguhan [WHV] terjadi, masyarakat kita dan khususnya di pedesaan akan menderita," ujar kepala eksekutif BlazeAid, Melissa Jones."Di kamp basis kami di Euroa [di Victoria] saat ini, tempat kami bekerja setelah kebakaran Longwood, 75 persen dari mereka yang berada di kamp adalah backpacker."Melissa mengatakan manfaat memiliki para peserta WHV melampaui area "yang kami bangun kembali.""Mereka berbelanja di toko-toko lokal, tinggal di komunitas lokal, dan menjalin hubungan dengan orang-orang," katanya."Mereka tidak membeli rumah kita, mereka tidak mengambil ruang yang kita butuhkan."Mereka sebenarnya sangat bermanfaat bagi negara kita, dan seharusnya tetap seperti itu."Petani kentang Australia Selatan, Terry Buckley, mengatakan para backpacker juga sangat penting bagi bisnisnya."Kami biasanya memiliki beberapa backpacker ketika kami memotong bibit kentang untuk ditanam dan … ketika kami panen di musim gugur."Terry mengatakan, tanpa peserta WHV, ia harus membeli lebih banyak mesin."Ada banyak mesin yang harganya AU$1 juta [lebih dari Rp12 miliar] per unit sekarang, jadi semua itu harus dikembalikan entah bagaimana caranya," katanya.Pekerja dari Pasifik 'bukan pengganti'Menteri Dalam Negeri Australia berpendapat skema Mobilitas Tenaga Kerja Pasifik Australia (PALM) akan menjadi "visa utama untuk industri pertanian."Namun Richard dari Federasi Petani Nasional mengatakan ada banyak pekerjaan untuk peserta PALM dan peserta WHV."Mereka bukan pengganti. Mereka memegang peran dan tujuan yang berbeda, baik dalam arti praktis di pertanian maupun dalam hal kebutuhan tenaga kerja yang mereka penuhi," katanya.Perusahaan penanam mangga Kensington Pride dan R2E2 terbesar di Australia, Manbulloo di Kawasan Australia Utara, menggunakan pekerja PALM serta backpacker."Sebagian besar pekerja musiman berasal dari Pasifik, tetapi jika kami membutuhkan orang tambahan dalam tim, kami mempekerjakan backpacker," kata direktur pelaksana Marie Piccone.Ia mengatakan skema PALM lebih mahal dan prosesnya memakan waktu lebih lama."Biaya administrasinya sekitar 10 kali lipat dan jauh lebih mahal daripada hanya mempekerjakan warga Australia dengan tarif dan kondisi yang sama, atau mempekerjakan para peserta WHV," kata Marie."Kita perlu tenaga kerja untuk memanen mangga kita, karena itulah satu-satunya waktu dalam setahun di mana kita mendapatkan penghasilan."'Tekanan harga pokok'Kelompok-kelompok pertanian, termasuk BlazeAid, telah menulis surat kepada Menteri Tony Burke dan mendesaknya untuk mempertimbangkan pentingnya para backpacker."Saya pikir para menteri dan pemerintah federal harus memahami kalau sektor hortikultura sedang mengalami tekanan harga pokok," ujar Marie.Richard mengatakan kelompok petani di Australia akan mengambil "segala langkah yang mungkin" untuk memastikan pemerintah mempertimbangkan risiko pengurangan peserta WHV terhadap ketahanan pangan."Dan tekanan kenaikan harga yang kemungkinan akan terjadi pada harga produk segar di rak-rak supermarket," katanya.ABC telah menghubungi pemerintah untuk meminta komentar.Baca dalam bahasa InggrisSimak juga Video 'Bisa-bisanya Warga Israel Sabotase Air Petani Palestina untuk Kolam Renang':